Protozoa Yang Bergerak Dengan Pseudopodia Digolongkan Dalam Kelas

Protozoa Yang Bergerak Dengan Pseudopodia Digolongkan Dalam Kelas

Kurungan
Sel tumbuhan.png

Sel selaput penyusun umbi bawang bombai (Allium cepa) dilihat dengan mikroskop cahaya. Tampak dinding rumah pasung nan membentuk “ruang-pangsa” dan inti kurungan nyata noktah di dalam setiap pangsa (perbesaran 400 kali plong berkas aslinya).

EMpylori.jpg

Sel bakteri
Helicobacter pylori
dilihat menunggangi kaca pembesar elektron. Bakteri ini memiliki banyak flagela puas permukaan selnya.

Pengidentifikasi
MeSH D002477
TH H1.00.01.0.00001
FMA 686465

Daftar istilah ilmu tasyrih

[sunting di Wikidata]

Internal biologi,
sel
adalah kumpulan materi minimum keteter yang dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua khalayak spirit.[1]
[2]
Kerangkeng mampu melakukan semua aktivitas kehidupan dan sebagian besar reaksi kimia lakukan mempertahankan nasib berlantas di dalam bui.[3]
[4]
Lazimnya insan nasib tersusun atas terungku tunggal,[5]
atau disebut organisme uniseluler, misalnya bakteri dan amoeba. Makhluk hidup lainnya, tertulis tumbuhan, hewan, dan manusia, adalah organisme multiseluler yang terdiri pecah banyak diversifikasi interniran terspesialisasi dengan fungsinya per.[1]
Badan basyar, misalnya, tersusun atas bertambah dari 1013
sel.[5]
Semata-mata, seluruh tubuh semua organisme berasal dari hasil pembelahan satu terungku. Contohnya, bodi mikroba berasal berpangkal pembelahan sel bakteri induknya, darurat tubuh tikus pecah dari pembelahan interniran telur induknya yang sudah dibuahi.

Tangsi-rumah tahanan pada organisme multiseluler tidak akan bersikukuh lama sekiranya sendirisendiri bersimbah sendiri.[1]
Sel yang sama dikelompokkan menjadi jaringan, yang membangun perabot dan kemudian sistem alat yang membuat tubuh organisme tersebut. Contohnya, sel otot jantung membentuk jaringan urat jantung pada organ jantung yang merupakan fragmen dari sistem perabot peredaran bakat pada tubuh turunan. Darurat itu, sel sendiri tersusun atas komponen-komponen yang disebut organel.[6]

Sel terkecil yang dikenal manusia yakni bakteri
Mycoplasma
dengan diameter 0,0001 hingga 0,001 mm,[7]
sedangkan pelecok satu sel tunggal nan bisa dilihat dengan mata telanjang ialah telur ayam jago nan belum dibuahi. Akan hanya, sebagian samudra sel berdiameter antara 1 setakat 100 µm (0,001–0,1 mm) sehingga tetapi bisa dilihat dengan mikroskop.[8]
Penemuan dan kajian awal adapun rumah tahanan memperoleh kejayaan sejalan dengan penemuan dan penyempurnaan mikroskop pada abad ke-17. Robert Hooke pertama kali mendeskripsikan dan menamai rumah tahanan pada periode 1665 ketika anda menghakimi suatu potongan gabus (kulit batang pohon ek) dengan mikroskop yang memiliki perbesaran 30 kali.[4]
Namun, teori pengasingan misal unit spirit baru dirumuskan hampir dua abad sehabis itu oleh Matthias Schleiden dan Theodor Schwann. Selanjutnya, lokap dikaji dalam cabang biologi yang disebut biologi sel.

Memori

Reka cipta awal

Kaca pembesar rancangan Robert Hooke menggunakan sumur binar bohlam petro.[9]

Kaca pembesar bermacam-macam dengan dua lensa mutakadim ditemukan sreg pengunci abad ke-16 dan selanjutnya dikembangkan di Belanda, Italia, dan Inggris. Hingga pertengahan abad ke-17 mikroskop sudah memiliki kemampuan perbesaran citra sebatas 30 mana tahu. Sarjana Inggris Robert Hooke kemudian merancang mikroskop majemuk nan memiliki mata air cahaya sendiri sehingga bertambah mudah digunakan.[10]
Beliau mengupas rajangan-irisan tipis gabus melampaui kaca pembesar dan menjabarkan struktur mikroskopik gabus misal “berpori-pori begitu juga sarang lebah tetapi pori-porinya tidak beraturan” dalam referat yang diterbitkan pada musim 1665.[11]
Hooke menyebut pori-pori itu
cells
karena mirip dengan rumah tahanan (bilik kecil) di dalam biara atau penjara.[10]
[12]
Yang sebenarnya dilihat maka itu Hooke adalah dinding sel hampa yang melingkupi terungku-kamp mati pada gabus yang berasal terbit jangat pohon ek.[13]
Ia juga mengamati bahwa di dalam tumbuhan bau kencur terwalak tangsi nan sakti cairan.[9]

Pada perian yang sama di Belanda, Antony van Leeuwenhoek, seorang perantau karet, menciptakan mikroskopnya sendiri yang berlensa satu dan menggunakannya untuk mengamati berbagai peristiwa.[10]
Ia berhasil melihat terungku darah merah, spermatozoid, khamir bersel tunggal, protozoa, dan bahkan bakteri.[13]
[14]
Pada tahun 1673 beliau menginjak mengangkut surat yang memerinci kegiatannya kepada Royal Society, perkumpulan ilmiah Inggris, nan lalu menerbitkannya. Pada keseleo suatu suratnya, Leeuwenhoek menayangkan sesuatu yang endut-endut di dalam air liur yang diamatinya di asal mikroskop. Ia menyebutnya
diertjen
atau
dierken
(bahasa Belanda: ‘fauna kecil’, diterjemahkan sebagai
animalcule
dalam bahasa Inggris oleh Porah Society), yang diyakini sebagai bakteri oleh ilmuwan modern.[10]
[15]

Puas periode 1675–1679, cendekiawan Italia Marcello Malpighi menjabarkan unit pereka cipta tanaman yang ia ucap
utricle
(‘saku kecil’). Menurut pengamatannya, setiap rongga tersebut pintar cairan dan dikelilingi oleh dinding yang setia. Nehemiah Grew dari Inggris juga menjabarkan sel pohon dalam tulisannya yang diterbitkan pada hari 1682, dan ia berhasil mencerca banyak struktur hijau kecil di dalam sel-rumah pasung daun tumbuhan, ialah kloroplas.[10]
[16]

Teori sel

Bilang ilmuwan pada abad ke-18 dan semula abad ke-19 telah berspekulasi atau mengamati bahwa tumbuhan dan hewan tersusun atas terungku,[17]
namun kejadian tersebut masih diperdebatkan puas saat itu.[16]
Pada tahun 1838, ahli botani Jerman Matthias Jakob Schleiden menyatakan bahwa semua tumbuhan terdiri atas sel dan bahwa semua aspek fungsi jasad tumbuhan pada dasarnya merupakan pengejawantahan aktivitas sel.[18]
Sira lagi menyatakan pentingnya nukleus (yang ditemukan Robert Brown puas musim 1831) dalam kepentingan dan pembentukan kerangkeng, namun anda keseleo mengira bahwa sel terasuh bermula inti atom.[16]
[19]
Puas hari 1839, Theodor Schwann, yang setelah beranggar pena dengan Schleiden mengingat-ingat bahwa engkau pernah menyerang nukleus rumah tahanan hewan sebagaimana Schleiden mengamatinya puas tumbuhan, menyatakan bahwa semua bagian tubuh hewan juga tersusun atas sel. Menurutnya, prinsip menyeluruh pembentukan berbagai bagian tubuh semua organisme adalah pembentukan sel.[18]

Ilmuwan tak yang kemudian memerinci teori terungku sebagaimana yang dikenal dalam rajah modern yaitu Rudolf Virchow. Plong tadinya ia sependapat dengan Schleiden mengenai pembentukan sel. Namun, pengamatan mikroskopis atas berbagai macam proses patologis membuatnya meringkas situasi yang setolok dengan yang telah disimpulkan oleh Robert Remak terbit pengamatannya terhadap sel bakat sirah dan mudigah, merupakan bahwa sel berasal dari penjara enggak melintasi pembelahan sel. Plong tahun 1855, Virchow menerbitkan makalahnya nan memuat motonya yang populer,
omnis cellula e cellula
(semua kerangkeng berasal semenjak rumah pasung).[20]
[21]

Perkembangan biologi bui

Antara tahun 1875 dan 1895, terjadi berbagai rupa penemuan akan halnya fenomena seluler dasar, sebagai halnya mitosis, meiosis, dan pemupukan, serta beraneka macam organel terdepan, seperti mana mitokondria, kloroplas, dan raga Golgi.[22]
Lahirlah bidang yang mempelajari rumah tahanan, yang saat itu disebut sitologi.

Kronologi teknik baru, terutama fraksinasi sel dan mikroskopi elektron, memungkinkan sitologi dan biokimia melahirkan bidang yunior yang disebut biologi penjara.[23]
Pada hari 1960, perhimpunan ilmiah American Society for Cell Biology didirikan di New York, Amerika Perkongsian, dan tak lama setelahnya, buletin ilmiah
Journal of Biochemical and Biophysical Cytology
melongok nama menjadi
Journal of Cell Biology.[24]
Plong akhir dekade 1960-an, ilmu hayat sel telah menjadi suatu ketaatan ilmu yang mapan, dengan perserikatan dan pengetahuan ilmiahnya koteng serta n kepunyaan misi mengekspos mekanisme fungsi organel lembaga pemasyarakatan.[25]

Struktur

Semua hotel prodeo dibatasi oleh suatu membran yang disebut membran plasma, sementara daerah di n domestik sel disebut sitoplasma.[26]
Setiap sel, sreg tahap tertentu dalam hidupnya, mengandung DNA sebagai materi yang dapat diwariskan dan menodongkan aktivitas interniran tersebut.[27]
Selain itu, semua interniran memiliki struktur yang disebut ribosom yang berfungsi privat pembuatan zat putih telur yang akan digunakan umpama katalis pada berbagai reaksi kimia n domestik terungku tersebut.[5]

Setiap organisme tersusun atas salah suatu berasal dua jenis kamp yang secara struktur berbeda: lembaga pemasyarakatan prokariotik maupun sel eukariotik. Kedua varietas sel ini dibedakan berdasarkan posisi DNA di intern sel; sebagian besar DNA pada eukariota jadi-jadian membran organel yang disebut nukleus maupun inti kerangkeng, sedangkan prokariota tidak mempunyai inti atom. Hanya bakteri dan arkea yang memiliki tangsi prokariotik, sementara protista, pokok kayu, jamur, dan satwa mempunyai kerangkeng eukariotik.[7]

Sel prokariota

Pada sel prokariota (berpangkal bahasa Yunani,
pro, ‘sebelum’ dan
karyon, ‘biji’), tidak ada membran yang menenangkan DNA berbunga adegan rumah pasung lainnya, dan daerah tempat DNA terhimpun di sitoplasma disebut
nukleoid.[7]
Biasanya prokariota adalah organisme uniseluler dengan sel berukuran kecil (berdiameter 0,7–2,0 µm dan volumenya sekitar 1 µm3) serta umumnya terdiri terbit kelumun sel, membran rumah tahanan, sitoplasma, nukleoid, dan beberapa struktur lain.[28]

Hampir semua sel prokariotik n kepunyaan selubung sel di luar membran selnya. Jika selubung tersebut mengandung satu lapisan kaku yang terbuat dari karbohidrat alias obsesi karbohidrat-protein, peptidoglikan, sepuhan itu disebut sebagai dinding sel. Kebanyakan mikroba punya suatu membran asing yang menutupi lapisan peptidoglikan, dan ada sekali lagi bakteri yang memiliki selubung sengkeran dari protein. Provisional itu, kebanyakan selubung lembaga pemasyarakatan arkea berbahan protein, walaupun ada juga yang berbahan peptidoglikan. Selubung lokap prokariota mencegah sel berpokok akibat tekanan osmotik pada lingkungan yang memiliki pemfokusan lebih terbatas ketimbang isi sel.[29]

Sejumlah prokariota memiliki struktur lain di luar selubung selnya. Banyak jenis basil memiliki lapisan di luar dinding sel yang disebut
kapsul
yang membantu sel patogen melekat pada bidang benda dan sel lain. Kapsul pula bisa kontributif kerangkeng bakteri menghindar semenjak hotel prodeo imunitas tubuh manusia spesies tertentu. Selain itu, sejumlah bakteri tertuju plong permukaan benda dan kamp tak dengan benang protein nan disebut
pilus
(sahih: pili) dan
fimbria
(jamak: fimbriae). Banyak jenis bakteri bergerak menggunakan
flagelum
(jamak: flagela) nan melekat lega dinding selnya dan berputar seperti pencetus.[30]

Prokariota umumnya memiliki satu molekul DNA dengan struktur kurung nan terkonsentrasi pada nukleoid. Selain itu, prokariota berkali-kali juga memiliki incaran genetik lampiran yang disebut plasmid yang juga berstruktur DNA lingkar. Pada galibnya, plasmid tidak dibutuhkan oleh sel untuk pertumbuhan walaupun sering kali plasmid mengapalkan gen tertentu nan memberikan keuntungan tambahan plong hal tertentu, misalnya pertempuran terhadap antibiotik.[31]

Prokariota juga memiliki sejumlah protein struktural yang disebut sitoskeleton, yang pada sediakala dianggap hanya cak semau plong eukariota.[32]
Protein skeleton tersebut meregulasi pembelahan interniran dan berperan menentukan bentuk rumah pasung.[33]

Interniran eukariota

Paparan awam lokap tumbuhan.

Gambaran umum lokap hewan.

Tidak seperti prokariota, lokap eukariota (bahasa Yunani,
eu, ‘sebenarnya’ dan
karyon) memiliki inti atom. Diameter sel eukariota biasanya 10 hingga 100 µm, sepuluh kali lebih besar tinimbang bakteri. Sitoplasma eukariota adalah daerah di antara inti atom dan membran sengkeran. Sitoplasma ini terdiri dari medium semicair yang disebut sitosol, nan di dalamnya terdapat organel-organel dengan bentuk dan manfaat terspesialisasi serta sebagian besar tidak dimiliki prokariota.[7]
Rata-rata organel dibatasi oleh suatu lapis membran, doang ada pula yang dibatasi oleh dua membran, misalnya inti atom.

Selain nukleus, bilang organel lain dimiliki hampir semua sel eukariota, ialah (1) mitokondria, tempat sebagian besar metabolisme energi sel terjadi; (2) retikulum endoplasma, suatu jaringan membran palagan sintesis glikoprotein dan lipid; (3) badan Golgi, nan mengarahkan hasil sintesis sel ke tempat tujuannya; serta (4) peroksisom, tempat perombakan senderut eco dan asam amino. Lisosom, yang menguraikan suku cadang sel yang tembelang dan benda asing nan dimasukkan maka dari itu rumah pasung, ditemukan pada sel hewan, doang bukan pada sel pohon. Kloroplas, gelanggang terjadinya fotosintesis, hanya ditemukan lega lokap-rumah pasung tertentu daun pokok kayu dan sejumlah organisme uniseluler. Baik sel tumbuhan maupun sejumlah eukariota uniseluler n kepunyaan suatu ataupun lebih vakuola, yakni organel tempat menyimpan nutrien dan limbah serta tempat terjadinya bilang reaksi penguraian.[34]

Jaringan protein serat sitoskeleton mempertahankan rancangan sel dan menyelesaikan rayapan struktur di dalam terungku eukariota.[34]
Sentriol, yang hanya ditemukan puas penjara hewan di karib nukleus, juga terbuat dari sitoskeleton.[35]

Dinding tangsi yang preskriptif, terbuat dari selulosa dan polimer lain, mengelilingi kurungan pokok kayu dan membuatnya abadi dan tegar. Fungi sekali lagi memiliki dinding sel, namun komposisinya berbeda bersumber dinding sel mikroba maupun tumbuhan.[34]
Di antara dinding sel pokok kayu yang berdampingan terdapat saluran yang disebut plasmodesmata.[36]

Onderdil subseluler

Membran

Membran pengasingan yang membatasi sel disebut sebagai membran plasma dan berfungsi sebagai kendala pilih-pilih yang memungkinkan distribusi oksigen, nutrien, dan limbah yang cukup bikin menyervis seluruh volume sel.[7]
Membran lokap lagi berperan dalam sintesis ATP, pensinyalan sel, dan adhesi sel.

Membran pengasingan berwujud lapisan sangat tipis nan terbentuk bermula molekul lipid dan protein. Membran kurungan berkepribadian dinamik dan rata-rata molekulnya dapat bergerak di sepanjang bidang membran. Molekul lipid membran tersusun dalam dua lapis dengan tebal sekitar 5 nm yang menjadi penghalang bagi kebanyakan molekul hidrofilik. Molekul-molekul zat putih telur yang menembus lapisan ganda lipid tersebut berperan dalam damping semua khasiat enggak membran, misalnya mengirimkan anasir tertentu melewati membran. Suka-suka pula protein yang menjadi pengait struktural ke sel lain, atau menjadi reseptor nan mendeteksi dan mengacapi sinyal kimiawi dalam mileu hotel prodeo. Diperkirakan bahwa sekitar 30% protein nan dapat disintesis sel sato ialah zat putih telur membran.[37]

Inti atom

Nukleus mengandung sebagian besar gen yang mengendalikan sel eukariota (sebagian enggak gen terdapat di dalam mitokondria dan kloroplas). Dengan diameter biasanya 5 µm, organel ini umumnya adalah organel yang paling mencolok kerumahtanggaan sel eukariota.[38]
Kebanyakan sel memiliki satu nukleus,[39]
tetapi ada sekali lagi yang mempunyai banyak inti atom, contohnya sel otot lembaga, dan ada juga yang enggak mempunyai nukleus, contohnya lokap darah merah matang yang kekeringan nukleusnya saat berkembang.[40]

Kelumun nukleus melingkupi inti atom dan memisahkan isinya (yang disebut
nukleoplasma) dari sitoplasma. Selubung ini terdiri bersumber dua membran yang tiap-tiap merupakan lapisan ganda lipid dengan protein terkait. Membran luar dan dalam selubung nukleus dipisahkan oleh kolom seputar 20–40 nm. Kelumun inti atom memiliki beberapa pori yang berdiameter sekitar 100 nm dan pada bibir setiap pori, kedua membran kelumun nukleus menyatu.[38]

Di privat nukleus, DNA terorganisasi bersama dengan protein menjadi kromatin. Serampak sel siap untuk membelah, kromatin gelisah nan berbentuk benang akan mengumpar, menjadi layak tebal untuk dibedakan melintasi mikroskop seumpama struktur terpisah nan disebut kromosom.[38]

Struktur yang menonjol di dalam nukleus kurungan nan sedang tak membelah ialah nukleolus, yang yakni gelanggang sejumlah komponen ribosom disintesis dan dirakit. Komponen-komponen ini kemudian dilewatkan melewati pori inti atom ke sitoplasma, tempat semuanya bergabung menjadi ribosom. Kadang-kadang terwalak lebih terbit satu nukleolus, bergantung pada spesiesnya dan tahap reproduksi sel tersebut.[38]

Nukleus mengedalikan paduan protein di intern sitoplasma dengan cara mengirim zarah pembawa wanti-wanti berupa RNA, merupakan mRNA, yang disintesis berdasarkan “pesan” gen plong DNA. RNA ini lalu dikeluarkan ke sitoplasma melalui pori inti atom dan terpatok lega ribosom, tempat wanti-wanti genetik tersebut diterjemahkan menjadi urutan asam amino zat putih telur yang disintesis.[38]

Ribosom

Ribosom yaitu tempat kurungan membuat protein. Interniran dengan lampias sintesis protein yang panjang memiliki banyak sekali ribosom, contohnya sel lever hamba allah yang memiliki beberapa miliun ribosom.[38]
Ribosom sendiri tersusun atas berbagai diversifikasi protein dan sejumlah molekul RNA.

Ribosom eukariota kian ki akbar daripada ribosom prokariota, namun keduanya sangat mirip dalam hal struktur dan fungsi. Keduanya terdiri pecah satu subunit besar dan satu subunit kecil yang berintegrasi membentuk ribosom lengkap dengan massa beberapa juta dalton.[41]

Pada eukariota, ribosom dapat ditemukan bebas di sitosol atau terikat lega penggalan asing retikulum endoplasma. Sebagian besar zat putih telur yang diproduksi ribosom netral akan berfungsi di internal sitosol, provisional ribosom terikat umumnya mewujudkan protein yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam membran, lakukan dibungkus di n domestik organel tertentu seperti mana lisosom, ataupun kerjakan dikirim ke luar interniran. Ribosom bebas dan terikat memiliki struktur identik dan dapat saling bertukar tempat. Sel dapat mengimbangkan jumlah relatif per ribosom sejenis itu metabolismenya berubah.[38]

Sistem endomembran

Berbagai membran dalam sel eukariota yakni babak dari sistem endomembran. Membran ini dihubungkan menerobos sambungan jasmani langsung atau melalui transfer antarsegmen membran dalam bentuk vesikel (gelembung yang dibungkus membran) kecil. Sistem endomembran mencakup selubung nukleus, retikulum endoplasma, fisik Golgi, lisosom, berbagai jenis vakuola, dan membran plasma.[38]
Sistem ini n kepunyaan heterogen kekuatan, tercatat sintesis dan modifikasi protein serta transpor protein ke membran dan organel atau ke luar pengasingan, paduan lipid, dan penetralan beberapa jenis venom.[42]

Retikulum endoplasma

Retikulum endoplasma merupakan perluasan selubung nukleus yang terdiri bersumber jaringan (reticulum
= ‘jaring kerdil’) sungai buatan bermembran dan vesikel yang ganti terhubung. Terdapat dua bentuk retikulum endoplasma, yaitu retikulum endoplasma kasar dan retikulum endoplasma halus.[42]

Retikulum endoplasma kasar disebut demikian karena permukaannya ditempeli banyak ribosom. Ribosom yang menginjak mensintesis protein dengan tempat intensi tertentu, seperti organel tertentu atau membran, akan menempel pada retikulum endoplasma garang. Zat putih telur yang terbentuk akan terdorong ke bagian dalam retikulum endoplasma yang disebut
lumen.[43]
Di dalam lumen, protein tersebut mengalami pelipatan dan dimodifikasi, misalnya dengan penambahan karbohidrat bagi membentuk glikoprotein. Protein tersebut lalu dipindahkan ke bagian lain pengasingan di dalam vesikel kerdil nan menyembul keluar berpokok retikulum endoplasma, dan berintegrasi dengan organel yang berperan lebih lanjut dalam modifikasi dan distribusinya. Lazimnya protein membidik ke awak Golgi, yang akan mengemas dan memilahnya untuk diantarkan ke tujuan kesudahannya.

Retikulum endoplasma lumat tak memiliki ribosom lega permukaannya. Retikulum endoplasma halus berfungsi, misalnya, internal sintesis lipid komponen membran bui. Privat jenis bui tertentu, misalnya sel hati, membran retikulum endoplasma halus mengandung enzim yang mengubah perunding-obatan, racun, dan produk sertaan berbisa berpunca metabolisme kurungan menjadi paduan-senyawa yang kurang beracun alias kian mudah dikeluarkan bodi.[42]

Badan Golgi

Jasmani Golgi (dinamai menurut nama penemunya, Camillo Golgi) tersusun atas setumpuk kantong terpesuk semenjak membran yang disebut
sisterna. Biasanya terdapat tiga sampai delapan sisterna, tetapi terserah sejumlah organisme yang mempunyai badan Golgi dengan puluhan sisterna. Total dan ukuran badan Golgi bergantung pada jenis sengkeran dan aktivitas metabolismenya. Terungku yang aktif berbuat sekresi protein dapat n kepunyaan ratusan badan Golgi. Organel ini rata-rata terletak di antara retikulum endoplasma dan membran plasma.[42]

Arah jasad Golgi yang paling sanding dengan nukleus disebut sisi
cis, provisional sisi yang menjauhi nukleus disebut arah
trans. Ketika menginjak di jihat
cis, protein dimasukkan ke dalam lumen sisterna. Di dalam lumen, zat putih telur tersebut dimodifikasi, misalnya dengan penyisipan karbohidrat, ditandai dengan penanda kimiawi, dan dipilah-pilah kiranya nantinya dapat dikirim ke tujuannya masing-masing.[43]

Awak Golgi mengatur pergerakan majemuk diversifikasi protein; terserah yang disekresikan ke luar hotel prodeo, terserah nan digabungkan ke membran plasma sebagai protein transmembran, dan cak semau juga nan ditempatkan di n domestik lisosom. Protein yang disekresikan dari rumah pasung diangkut ke membran plasma di kerumahtanggaan vesikel sekresi, yang memperlainkan isinya dengan mandu bergabung dengan membran plasma dalam proses eksositosis. Proses sebaliknya, endositosis, boleh terjadi bila membran plasma mencekung ke dalam sel dan membentuk vesikel endositosis yang dibawa ke jasad Golgi ataupun tempat lain, misalnya lisosom.[42]

Lisosom

Lisosom pada sengkeran binatang yaitu vesikel yang memuat lebih dari 30 diversifikasi enzim hidrolitik cak bagi menguraikan berbagai molekul obsesi. Kerangkeng menggunakan pun subunit atom yang sudah diuraikan lisosom itu. Gelimbir sreg zat yang diuraikannya, lisosom dapat mempunyai heterogen format dan rancangan. Organel ini dibentuk sebagai vesikel yang melepaskan diri semenjak awak Golgi.[42]

Lisosom mengklarifikasi molekul makanan yang masuk ke n domestik rumah tahanan melalui endositosis ketika suatu vesikel endositosis bergabung dengan lisosom. Dalam proses yang disebut autofagi, lisosom mencerna organel yang tidak berfungsi dengan benar. Lisosom juga berperan intern fagositosis, proses nan dilakukan sejumlah varietas sel untuk mengangkangi bakteri atau episode sel lain buat diuraikan. Cermin sel yang mengamalkan fagositosis yaitu sepersaudaraan sel darah putih yang disebut fagosit, nan berperan terdahulu intern sistem keimunan tubuh.[42]

Vakuola

Kebanyakan kepentingan lisosom sel hewan dilakukan oleh vakuola plong hotel prodeo tumbuhan. Membran vakuola, nan yakni bagian dari sistem endomembran, disebut
tonoplas. Vakuola berpunca dari kata bahasa Latin
vacuolum
yang berfaedah ‘kosong’ dan dinamai demikian karena organel ini tidak memiliki struktur dalam. Umumnya vakuola lebih besar daripada vesikel, dan kadang kala terasuh berasal gabungan banyak vesikel.[44]

Rumah pasung pokok kayu cukup umur berukuran kecil dan mengandung banyak vakuola mungil nan kemudian bergabung membuat satu vakuola sentral seiring dengan penambahan air ke dalamnya. Ukuran hotel prodeo pohon diperbesar dengan menambahkan air ke kerumahtanggaan vakuola kunci tersebut. Vakuola sentral juga mengandung cadangan kas dapur, garam-garam, pigmen, dan limbah metabolisme. Zat nan beracun untuk herbivora dapat juga disimpan internal vakuola misal mekanisme pertahanan. Vakuola lagi berperan utama intern mempertahankan tekanan turgor tumbuhan.[44]

Vakuola memiliki banyak guna lain dan sekali lagi dapat ditemukan pada sengkeran dabat dan protista uniseluler. Kebanyakan protozoa n kepunyaan vakuola makanan, yang menyatu dengan lisosom agar lambung di dalamnya dapat dicerna. Beberapa jenis protozoa juga memiliki vakuola kontraktil, yang mengeluarkan kemustajaban air berasal sel.[44]

Mitokondria

Sebagian besar hotel prodeo eukariota mengandung banyak mitokondria, yang menempati sampai 25 uang lelah volume sitoplasma. Organel ini termasuk organel yang besar, secara umum sahaja kian mungil berasal nukleus, vakuola, dan kloroplas.[45]
Etiket mitokondria semenjak berpangkal penampakannya yang seperti sutra (bahasa Yunani
mitos, ‘lawe’) di bawah lup sinar.[46]

Organel ini memiliki dua spesies membran, yaitu membran luar dan membran dalam, nan dipisahkan maka itu ruang antarmembran. Luas permukaan membran dalam makin besar tinimbang membran luar karena memiliki keliman-lipatan, alias
krista, yang tersembul ke dalam
matriks, atau ruang dalam mitokondria.[45]

Mitokondria yaitu gelanggang berlangsungnya respirasi seluler, yaitu suatu proses kimiawi yang memberi energi plong sel.[47]
Karbohidrat dan enak adalah cermin unsur alat pencernaan berenergi tinggi yang dipecah menjadi air dan karbon dioksida oleh reaksi-reaksi di privat mitokondria, dengan pelepasan energi. Kebanyakan energi nan dilepas dalam proses itu ditangkap makanya molekul yang disebut ATP. Mitokondria-lah yang menghasilkan sebagian besar ATP sel.[42]
Energi kimiawi ATP nantinya dapat digunakan bagi menjalankan berbagai reaksi ilmu pisah intern sel.[44]
Sebagian besar tahap pemecahan unsur rezeki dan pembuatan ATP tersebut dilakukan makanya enzim-enzim yang terwalak di internal krista dan matriks mitokondria.[45]

Mitokondria memperbanyak diri secara independen dari keseluruhan bagian sel lain.[46]
Organel ini n kepunyaan DNA sendiri yang menyandikan beberapa zat putih telur mitokondria, nan dibuat puas ribosomnya sendiri nan serupa dengan ribosom prokariota.[44]

Kloroplas

Kloroplas merupakan salah satu jenis organel yang disebut plastid pada tumbuhan dan alga.[36]
Kloroplas mengandung klorofil, pigmen mentah yang menangkap energi kilauan untuk fotosintesis, yaitu serangkaian reaksi yang mengubah energi cahaya menjadi energi kimiawi nan disimpan dalam molekul karbohidrat dan senyawa organik lain.[48]

Satu sel alga uniseluler dapat punya satu kloroplas doang, provisional satu sel daun dapat memiliki 20 sampai 100 kloroplas. Organel ini mendekati lebih osean daripada mitokondria, dengan panjang 5–10 µm atau lebih. Kloroplas biasanya berbentuk sebagaimana cakram dan, sebagai halnya mitokondria, mempunyai membran asing dan membran dalam yang dipisahkan oleh ruang antarmembran. Membran dalam kloroplas mengerudungi
stroma, yang memuat heterogen enzim yang berkewajiban takhlik fruktosa dari karbon dioksida dan air dalam fotosintesis. Suatu sistem membran n domestik yang kedua di dalam stroma terdiri berpangkal kantong-kantong pipih disebut
tilakoid
yang saling berhubungan. Tilakoid-tilakoid membentuk satu onggokan yang disebut
granum
(jamak,
grana). Klorofil terdapat sreg membran tilakoid, nan berperan serupa dengan membran dalam mitokondria, adalah terlibat intern pembentukan ATP.[48]
Sebagian ATP yang terlatih ini digunakan oleh enzim di stroma buat mengubah karbon dioksida menjadi paduan antara berkarbon tiga yang kemudian dikeluarkan ke sitoplasma dan diubah menjadi fruktosa.[49]

Sepadan seperti mitokondria, kloroplas juga memiliki DNA dan ribosomnya sendiri serta tumbuh dan memperbanyak dirinya sendiri.[44]
Kedua organel ini kembali bisa berpindah-pindah tempat di intern lembaga pemasyarakatan.[49]

Peroksisom

Peroksisom berukuran mirip dengan lisosom dan bisa ditemukan dalam semua rumah pasung eukariota.[50]
Organel ini dinamai demikian karena biasanya mengandung satu atau makin enzim yang berkujut dalam reaksi oksidasi menghasilkan hidrogen peroksida (H2Ozon2).[51]
Hidrogen peroksida ialah target kimia beracun, sekadar di dalam peroksisom paduan ini digunakan untuk reaksi oksidasi lain atau diuraikan menjadi air dan oksigen. Salah satu tugas peroksisom merupakan mengoksidasi asam legit panjang menjadi bertambah singkat yang kemudian dibawa ke mitokondria lakukan oksidasi arketipe.[50]
Peroksisom pada sel hati dan geli-geli pula mendetoksifikasi berbagai molekul beracun yang memasuki darah, misalnya alkohol. Darurat itu, peroksisom puas ponten tanaman berlaku utama meniadakan tandon lemak poin menjadi fruktosa yang digunakan kerumahtanggaan tahap perkecambahan.[51]

Sitoskeleton

Sitoskeleton eukariota terdiri dari tiga macam serat protein, yaitu mikrotubulus, filamen intermediat, dan mikrofilamen.[52]
Protein sitoskeleton nan serupa dan berfungsi sama dengan sitoskeleton eukariota ditemukan pula lega prokariota.[33]
Mikrotubulus berwujud silinder berongga yang memberi bagan sel, menuntun gerakan organel, dan kontributif pergerakan kromosom plong saat pembelahan sel. Silia dan flagela eukariota, yang ialah alat tolong pergerakan, pun berisi mikrotubulus. Filamen intermediat kondusif susuk penjara dan membuat organel tegar berada di tempatnya. Sementara itu, mikrofilamen, yang faktual batang tipis dari protein aktin, berfungsi antara tidak dalam kontraksi otot pada hewan, pembentukan pseudopodia untuk pergerakan sel ameba, dan aliran bahan di dalam sitoplasma sel pokok kayu.[53]

Sejumlah
protein motor
menggerakkan beraneka rupa organel di sepanjang sitoskeleton eukariota. Secara umum, protein motor dapat digolongkan dalam tiga jenis, adalah kinesin, dinein, dan miosin. Kinesin dan dinein bergerak pada mikrotubulus, sementara miosin berputar pada mikrofilamen.[54]

Komponen ekstraseluler

Sel-sel hewan dan pokok kayu disatukan laksana jaringan terutama oleh
matriks ekstraseluler, merupakan jejaring mania partikel nan disekresikan sel dan berfungsi terdahulu membentuk kerangka simpatisan. Terutama pada satwa, interniran-sel pada umumnya jaringan terikat serentak satu seimbang lain melangkahi
sambungan sel.[55]

Matriks ekstraseluler hewan

Matriks ekstraseluler sel hewan berbahan penyelenggara utama glikoprotein (protein nan bersendi dengan karbohidrat pendek), dan yang paling melimpah yaitu kolagen nan membentuk serabut lestari di eksterior tangsi. Serabut kolagen ini tertanam dalam jalinan tenunan nan terbuat terbit proteoglikan, yang merupakan glikoprotein inferior lain[56]
Variasi jenis dan susunan anasir matriks ekstraseluler menimbulkan plural rencana, misalnya keras begitu juga permukaan lemak tulang dan gigi, transparan seperti kornea mata, alias berbentuk sebagaimana lembar lestari pada urat. Matriks ekstraseluler tidak hanya mengesakan sel-kerangkeng tetapi juga memengaruhi jalan, bentuk, dan perilaku sel.[57]

Dinding sel tanaman

Dinding rumah pasung tumbuhan ialah matriks ekstraseluler yang menyelubungi tiap terungku tumbuhan.[58]
Dinding ini tersusun atas jamur selulosa nan terukir dalam polisakarida lain serta zat putih telur dan berukuran jauh lebih tebal ketimbang membran plasma, yaitu 0,1 µm sebatas bilang mikrometer. Dinding sel mereservasi sel tumbuhan, mempertahankan bentuknya, dan mencegah penyerapan air secara berlebihan.[59]

Sambungan antarsel

Sambungan sel (cell junction) bisa ditemukan lega titik-titik pertemuan antarsel atau antara hotel prodeo dan matriks ekstraseluler. Menurut fungsinya, sambungan sel dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni (1) sambungan penyumbat (occluding junction), (2) sambungan angker (anchoring junction), dan (3) sambungan pengomunikasi (communicating junction). Sambungan penyumbat menyegel permukaan dua sel menjadi suatu sedemikian rupa sehingga molekul katai sekalipun tidak dapat tinggal, contohnya ialah sambungan ketat (tight junction) pada vertebrata. Sementara itu, sambungan jangkar menempelkan pengasingan (dan sitoskeletonnya) ke lokap tetangganya atau ke matriks ekstraseluler. Terakhir, sambungan pengomunikasi memusatkan dua sel tetapi memungkinkan sinyal kimiawi atau listrik cak lari antarsel tersebut. Plasmodesmata merupakan contoh sambungan pengomunikasi nan hanya ditemukan pada tumbuhan.[60]

Fungsi

Metabolisme

Keseluruhan reaksi kimia yang membuat khalayak atma mewah mengamalkan aktivitasnya disebut metabolisme,[61]
dan sebagian besar reaksi kimia tersebut terjadi di internal lembaga pemasyarakatan.[3]
Metabolisme nan terjadi di dalam sel dapat berupa reaksi katabolik, yaitu reformasi campuran ilmu pisah bakal menghasilkan energi ataupun bagi dijadikan target pembentukan senyawa tidak, dan reaksi anabolik, yaitu reaksi penyusunan komponen tangsi.[62]
Pelecok satu proses katabolik yang merombak molekul makanan untuk menghasilkan energi di privat pengasingan ialah respirasi seluler, yang sebagian besar berlangsung di n domestik mitokondria eukariota atau sitosol prokariota dan menghasilkan ATP. Provisional itu, contoh proses anabolik adalah sintesis protein yang berlangsung sreg ribosom dan membutuhkan ATP.

Komunikasi sel

Kemampuan lembaga pemasyarakatan bagi berkomunikasi, adalah menerima dan mengirimkan ‘sinyal’ dari dan kepada sel bukan, menentukan interaksi antarorganisme uniseluler serta mengatur kemujaraban dan urut-urutan tubuh organisme multiseluler. Misalnya, bakteri berkomunikasi suatu setimpal bukan dalam proses
quorum sensing
(pengindraan kuorum) bakal menentukan apakah kuantitas mereka mutakadim cukup sebelum takhlik biofilm, sementara sel-sel n domestik embrio hewan berkomunikasi untuk koordinasi proses diferensiasi menjadi beraneka ragam jenis sel.

Komunikasi sel terdiri dari proses transfer sinyal antarsel dalam bentuk atom (misalnya hormon) ataupun aktivitas listrik, dan transduksi sinyal di privat lokap bahan ke molekul yang menghasilkan respons sel. Mekanisme transfer sinyal boleh terjadi dengan kontak antarsel (misalnya melintasi sambungan pengomunikasi), penyerantaan molekul sinyal ke kerangkeng yang berkembar, penyebaran molekul sinyal ke pengasingan yang jauh melalui susukan (misalnya tenggorokan darah), atau perambatan sinyal listrik ke sel yang jauh (misalnya pada jaringan urat lugu). Selanjutnya, molekul sinyal menembus membran secara langsung, lewat melangkaui sungai buatan protein, maupun melekat pada reseptor berupa zat putih telur transmembran plong bidang sel bahan dan menembakkan transduksi sinyal di kerumahtanggaan sel. Transduksi sinyal ini bisa melibatkan sejumlah zat yang disebut pengarak pesan kedua (second messenger) yang konsentrasinya meningkat setelah pelekatan molekul sinyal pada reseptor dan nan nantinya meregulasi aktivitas protein enggak di dalam interniran. Selain itu, transduksi sinyal kembali dapat dilakukan makanya beberapa jenis protein nan pada akhirnya bisa memengaruhi metabolisme, manfaat, atau perkembangan sel.[63]
[64]

Siklus tangsi

Video yang dipercepat mengilustrasikan pembelahan sel bakteri
E. coli

Setiap bui berpunca berbunga pembelahan interniran sebelumnya, dan tahap-tahap spirit bui antara pembelahan sel ke pembelahan sel berikutnya disebut sebagai siklus terungku.[65]
Pada galibnya tangsi, siklus ini terdiri berbunga empat proses terkoordinasi, yaitu pertumbuhan rumah tahanan, replikasi DNA, pemisahan DNA yang sudah digandakan ke dua calon sel anakan, serta pembelahan terungku.[66]
Pada bakteri, proses pemecahan DNA ke calon sel anakan dapat terjadi bersamaan dengan replikasi DNA, dan siklus sel yang berurutan dapat bertumpang tindih. Keadaan ini tidak terjadi sreg eukariota yang siklus selnya terjadi dalam empat fase terpisah sehingga laju pembelahan sel patogen bisa lebih cepat daripada lampias pembelahan sengkeran eukariota.[67]
Puas eukariota, tahap pertumbuhan sel umumnya terjadi dua kali, merupakan sebelum replikasi DNA (disebut
fase G1
,
gap
1) dan sebelum pembelahan sel (fase G2
). Siklus kerangkeng bibit penyakit tidak wajib memiliki fase G1, namun memiliki fase G2
yang disebut hari D. Tahap replikasi DNA puas eukariota disebut
fase S
(sintesis), atau pada bakteri ekuivalen dengan periode C. Selanjutnya, eukariota memiliki tahap pembelahan inti atom yang disebut
fase M
(mitosis).

Peralihan antartahap siklus bui dikendalikan oleh suatu perangkat pengaturan nan bukan namun mengoordinasi beragam kejadian kerumahtanggaan siklus rumah tahanan, tetapi kembali mengaduh siklus sel dengan sinyal ekstrasel yang memintasi perbanyakan sel. Misalnya, terungku sato pada fase G1
dapat berhenti dan lain beralih ke fase S bila tidak cak semau faktor pertumbuhan tertentu, melainkan memasuki kejadian nan disebut fase G
dan lain mengalami pertumbuhan maupun perbanyakan. Contohnya adalah sel fibroblas yang cuma membelah diri cak bagi membetulkan kerusakan tubuh akibat luka.[66]
Sekiranya pengaturan siklus sel terganggu, misalnya karena mutasi, risiko pembentukan tumor—yaitu perbanyakan penjara yang tidak halal—meningkat dan dapat berwibawa pada pembentukan kanker.[68]

Diferensiasi rumah pasung

Diferensiasi sel menciptakan keberagaman variasi sel nan muncul selama perkembangan suatu organisme multiseluler dari sebuah kamp telur yang sudah dibuahi. Misalnya, mamalia yang berasal terbit sebuah terungku berkembang menjadi satu organisme dengan ratusan tipe sel farik seperti otot, saraf, dan kulit.[69]
Hotel prodeo-sel dalam janin nan semenjana berkembang berbuat pensinyalan bui yang memengaruhi ekspresi gen sel dan menyebabkan diferensiasi tersebut.[70]

Kematian tangsi terprogram

Sel internal organisme multiseluler dapat mengalami suatu mortalitas terprogram nan berguna bagi pengendalian populasi terungku dengan cara mengimbangi perbanyakan rumah tahanan, misalnya untuk mencegah munculnya tumor. Mortalitas sel pula berguna kerjakan menghibur putaran tubuh yang bukan diperlukan. Contohnya, pron bila pembentukan embrio, ruji-ruji pada tangan atau kaki manusia pada mulanya tukar menyatu, tetapi kemudian terbentuk berkat kematian kamp-sel antarjari. Dengan demikian, waktu dan tempat terjadinya kematian bui, setara seperti pertumbuhan dan pembelahan sel, adalah proses yang tinggal terkendali. Mortalitas bui begitu terjadi privat proses nan disebut apoptosis yang dimulai ketika suatu faktor penting hilang dari lingkungan hotel prodeo atau ketika suatu sinyal internal diaktifkan. Gejala awal apoptosis adalah kompresi nukleus dan fragmentasi DNA yang diikuti oleh penyusutan kurungan.[71]

Kajian tentang sel

Ilmu hayat sel modern berkembang berasal integrasi antara sitologi, yaitu kajian adapun struktur hotel prodeo, dan biokimia, ialah kajian tentang molekul dan proses kimiawi metabolisme. Mikroskop yaitu peralatan yang paling signifikan n domestik sitologi, sementara pendekatan biokimia yang disebut fraksinasi sel pula telah menjadi habis berjasa intern biologi sel.[72]

Mikroskopi

Silia lega permukaan sel bagian dalam trakea mamalia dilihat dengan SEM (perbesaran 10.000 kali plong berkas aslinya).

Mikroskop bertindak n domestik kajian tentang sel sejak awal penemuannya. Macam mikroskop nan digunakan para sarjana Renaisans dan yang kini masih banyak digunakan di laboratorium merupakan kaca pembesar binar. Kirana terlihat dilewatkan menembus spesimen dan kemudian kanta gelas yang merefraksikan kurat sedemikian rupa sehingga citra spesimen tersebut diperbesar ketika diproyeksikan ke mata pemakai mikroskop. Namun, mikroskop cahaya mempunyai perenggan sosi beber, yaitu tidak mewah menguraikan perincian nan lebih renik berusul kira-tebak 0,2 µm (ukuran bakteri kecil). Peluasan teknik penggunaan mikroskop semarak sejak mulanya abad ke-20 melibatkan usaha bakal meningkatkan kontras, misalnya dengan pewarnaan maupun anugerah zat fluoresen. Seterusnya, biologi sel mengalami keberuntungan pesat dengan penemuan kaca pembesar elektron yang memperalat balut elektron perumpamaan pengganti cahaya kelihatan dan dapat memiliki resolusi (buku urai) selingkung 2 nm. Terletak dua jenis sumber akar mikroskop elektron, ialah mikroskop elektron gigi (transmission electron microscope, TEM) dan mikroskop elektron payar (scanning electron microscope, SEM). TEM terutama digunakan bakal mengkaji struktur privat sel, sementara SEM sangat berguna buat melihat latar percontoh secara rinci.[72]

Fraksinasi sel

Fraksinasi pengasingan ialah teknik untuk memufakatkan putaran-bagian sel. Secara umum, teknik ini melibatkan homogenisasi, yaitu pemecahan sel secara renik dengan sambung tangan blender atau perabot ultrasuara, dan sentrifugasi, yaitu separasi komponen-komponen sengkeran maka dari itu tendensi sentrifugal dalam peranti sentrifuge, alat sama dengan komidi putar buat tabung reaksi yang boleh berputar pada berbagai kecepatan. Sentrifuge nan paling usil, nan disebut ultrasentrifuge, dapat bergerak secepat-cepatnya 80.000 rotasi per menit (rpm) dan memberikan kecenderungan pada partikel-partikel sampel sebatas 500.000 kali kecenderungan gravitasi bumi (500.000
g). Pemutaran homogenat di dalam sentrifuge akan menengahi fragmen-penggalan terungku ke n domestik dua fraksi, yaitu pelet, yang terdiri atas struktur-struktur bertambah besar nan terkonsentrasi di adegan bawah torak sentrifuge, dan supernatan, yang terdiri atas bagian-fragmen hotel prodeo nan lebih kecil yang tersuspensi internal cairan di atas pelet tersebut. Supernatan ini disentrifugasi kembali dan prosesnya diulangi, dengan kecepatan putaran yang semakin tingkatan pada setiap tahap, sehingga komponen sel yang semakin lama semakin kerdil terkonsentrasi internal pelet yang kronologis.[72]

Referensi

  1. ^


    a




    b




    c



    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 112

  2. ^

    Fried & Hademenos 2006, hlm. 35
  3. ^


    a




    b



    Sloane 2003, hlm. 34
  4. ^


    a




    b



    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 4
  5. ^


    a




    b




    c



    Alberts et al. 2002, “The Universal Features of Cells on Earth”

  6. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 3
  7. ^


    a




    b




    c




    d




    e



    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 116

  8. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 113
  9. ^


    a




    b



    Starr
    et al. 2008, hlm. 54-55
  10. ^


    a




    b




    c




    d




    e



    Stewart 2007, hlm. 10-18

  11. ^


    (Inggris)


    • Micrographia: Some Physiological Descriptions of Minute Bodies Made by Magnifying Glasses with Observations and Inquiries Thereupon
      oleh Robert Hooke’
      di Proyek Gutenberg


  12. ^

    Fried & Hademenos 2006, hlm. 45
  13. ^


    a




    b



    Stone 2004, hlm. 64

  14. ^

    Porter 1976, hlm. 260-269

  15. ^


    Anderson, D. (1 September 2009). “Dutch”.
    Lens on Leeuwenhoek
    (dalam bahasa Inggris). Diakses copot 02-02-2012.




  16. ^


    a




    b




    c



    Everson 2007, hlm. 37-41

  17. ^

    Stewart 2007, hlm. 31
  18. ^


    a




    b



    Magner 2002, hlm. 154-158

  19. ^

    Harris 2000, hlm. 98

  20. ^

    Magner 2002, hlm. 160-161

  21. ^

    Schwartz 2008, hlm. 146

  22. ^

    Magner 2002, hlm. 163

  23. ^

    Bechtel 2006, hlm. 162

  24. ^

    Hay 1992, hlm. 384

  25. ^

    Bechtel 2006, hlm. 13

  26. ^

    Kratz 2009, hlm. 17

  27. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 6

  28. ^

    Wheelis 2008, hlm. 48-49

  29. ^

    Wheelis 2008, hlm. 50-52

  30. ^

    Kratz 2009, hlm. 35

  31. ^

    Yuwono 2007, hlm. 77

  32. ^

    Karp 2009, hlm. 318-319
  33. ^


    a




    b



    Pommerville 2011, hlm. 122-128
  34. ^


    a




    b




    c



    Lodish et al. 2000, Eukaryotic Cells Contain Many Organelles and a Complex Cytoskeleton

  35. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 118
  36. ^


    a




    b



    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 119

  37. ^

    Alberts et al. 2002, “Chapter 10. Membrane Structure”
  38. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h



    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 120

  39. ^

    Solomon, Berg & Martin 2004, hlm. 77

  40. ^

    Sloane 2003, hlm. 39

  41. ^

    Alberts et al. 2002, “The RNA Message Is Decoded on Ribosomes”
  42. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h



    Russell, Hertz & McMillan 2011, hlm. 99
  43. ^


    a




    b



    Kratz 2009, hlm. 24-25
  44. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f



    Solomon, Berg & Martin 2004, hlm. 84
  45. ^


    a




    b




    c



    Lodish et al. 2000, “Mitochondria Are the Principal Sites of ATP Production in Aerobic Cells”
  46. ^


    a




    b



    Fried & Hademenos 2006, hlm. 38

  47. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 7
  48. ^


    a




    b



    Solomon, Berg & Martin 2004, hlm. 86
  49. ^


    a




    b



    Lodish et al. 2000, “Chloroplasts, the Sites of Photosynthesis, Contain Three Membrane-Limited Compartments”
  50. ^


    a




    b



    Marks, Marks & Smith 2000, hlm. 135
  51. ^


    a




    b



    Alberts et al. 2002, “Peroxisomes”

  52. ^

    Solomon, Berg & Martin 2004, hlm. 87

  53. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 139

  54. ^

    Karp 2009, hlm. 328

  55. ^

    Alberts et al. 2002, “Chapter 19: Cell Junctions, Cell Adhesion, and the Extracellular Matrix”

  56. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 136

  57. ^

    Alberts et al. 2002, “The Extracellular Matrix of Animals”

  58. ^

    Alberts et al. 2002, “The Plant Cell Wall”

  59. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 135

  60. ^

    Alberts et al. 2002, “Cell Junctions”

  61. ^

    Solomon, Berg & Martin 2004, hlm. 122

  62. ^

    Yuwono 2007, hlm. 14

  63. ^

    Lodish et al. 2000, “Section 20.1: Overview of Extracellular Signaling”

  64. ^

    Clements & Saffrey 2001, hlm. 241-291

  65. ^

    Russell, Hertz & McMillan 2011, hlm. 200
  66. ^


    a




    b



    Cooper 2000, The Eukaryotic Cell Cycle

  67. ^

    Wheelis 2008, hlm. 194-197

  68. ^

    Goodman 2008, hlm. 286

  69. ^

    Lodish et al. 2000, “Cell Differentiation Creates New Types of Cells”

  70. ^

    Campbell, Reece & Mitchell 2004, hlm. 198

  71. ^

    Lodish et al. 2000, “Cells Die by Suicide”
  72. ^


    a




    b




    c



    Campbell, Reece & Mitchell 2002, hlm. 113-115

Daftar pustaka

  • Alberts, B.; Johnson, A.; Lewis, J.; Raff, M.; Roberts, K.; Walters, P. (2002).
    Molecular Biology of the Cell
    (n domestik bahasa Inggris) (edisi ke-4). New York: Garland Science.



  • Bechtel, Wiiliam (2006).
    Discovering Cell Mechanisms: The Creation of Modern Cell Biology
    (dalam bahasa Inggris). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 9780521812474.



  • Campbell, N.A.; Reece, J.B.; Mitchell, L.G. (2002).
    Biologi.
    1. Diterjemahkan oleh R. Lestari dkk. (edisi ke-5). Jakarta: Erlangga. ISBN 9796884682.



  • Campbell, N.A.; Reece, J.B.; Mitchell, L.G. (2004).
    Biologi.
    3. Diterjemahkan maka itu W. Manalu (edisi ke-5). Jakarta: Erlangga. ISBN 9789796884704.




    (lihat di Penelusuran Taktik Google)
  • Clements, M.; Saffrey, J. (2001). “Communication between Cells”. N domestik Saffrey, J. (penyunting).
    The Core of Life
    (internal bahasa Inggris).
    2. Milton Keynes: The Open University. ISBN 9780749235673.



  • Cooper, G.M. (2000).
    The Cell: A Molecular Approach
    (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-2). Sunderland, MA: Sinauer Associates.



  • Everson, Ted (2007).
    The Gene: a historical perspective
    (dalam bahasa Inggris). Westport, CT: Greenwood Press. ISBN 9780313334498.



  • Fried, George H.; Hademenos, George J. (2006).
    Schaum’s Outlines Biologi. Diterjemahkan oleh D. Tyas (edisi ke-2). Jakarta: Erlangga. ISBN 9789797817138.




  • Medical Cell Biology
    (intern bahasa Inggris) (edisi ke-3). Burlington, MA: Academic Press. 2008. ISBN 9780123704580.



  • Harris, Henry (2000).
    The Birth of the Cell
    (dalam bahasa Inggris). New Haven: Yale University Press. ISBN 9780300082951.



  • Hay, Elizabeth D. (1992), “Cell Biology”, n domestik Morris, C. et al. (pengedit),
    Academic Press Dictionary of Science and Technology
    (dalam bahasa Inggris), San Diego: Academic Press, ISBN 9780122004001



  • Karp, Gerald (2009).
    Cell and Molecular Biology: Concepts and Experiments
    (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-6). Hoboken, NJ: John Wiley and Sons. ISBN 9780470483374.



  • Kratz, R.F. (2009).
    Molecular & Cell Biology for Dummies
    (dalam bahasa Inggris). Hoboken, NJ: John Wiley & Son. ISBN 9780470531020.



  • Lodish, H.; Berk, A.; Zipursky, S.L.; Matsudaira, P.; Baltimore, D; Darnell, J. (2000).
    Molecular Cell Biology
    (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-4). New York: W. H. Freeman.



  • Magner, L.N. (2002).
    A History of the Life Sciences
    (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-3). New York: CRC Press. ISBN 9780824743604.



  • Marks, D.B.; Marks, A.D.; Smith, C.M. (2000).
    Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Diterjemahkan maka dari itu B.U. Pendit. Jakarta: EGC. ISBN 9789794484838.




    (tatap di Penelusuran Buku Google)
  • Pommerville, J.C. (2011).
    Alcamo’s Fundamentals of Microbiology
    (intern bahasa Inggris) (edisi ke-9). Sudbury, MA: Jones & Bartlett Publishers. ISBN 9781449615666.



  • Porter, J.R. (Juni 1976). “Antony van Leeuwenhoek: tercentenary of his discovery of bacteria”.
    Bacteriol. Rev.
    (dalam bahasa Inggris).
    40: 260–269. OCLC 679604905.



  • Russell, P.J.; Hertz, P.E.; McMillan, B. (2011).
    Biology: The Dynamic Science
    (dalam bahasa Inggris).
    1
    (edisi ke-2). Belmont, CA: Cengage Learning. ISBN 9780538493727.



  • Schwartz, James (2008).
    In Pursuit of the Gene: From Darwin to DNA
    (dalam bahasa Inggris). Cambridge: Harvard University Press. ISBN 9780674026704.



  • Sloane, Ethel (2003).
    Anatomi dan Ilmu faal Untuk Pemula. Diterjemahkan maka dari itu J. Veldman. Jakarta: EGC. ISBN 9789794486221.



  • Solomon, E.P.; Berg, L.R.; Martin, D.W. (2004).
    Biology
    (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-7). Belmont, CA: Cengage Learning. ISBN 9780534492762.





  • Stewart, Melissa (2007).
    Cell Biology
    (dalam bahasa Inggris). Minneapolis: Twenty-First Century Books. ISBN 9780822566038.



  • Stone, C.L. (2004).
    The Basics of Biology
    (dalam bahasa Inggris). Westport, CT: Greenwood Press. ISBN 9780313317866.



  • Wheelis, Mark (2008).
    Principles of Modern Microbiology
    (dalam bahasa Inggris). Sudbury, MA: Jones & Bartlett Learning. ISBN 9780763710750.



  • Yuwono, Triwibowo (2007).
    Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga. ISBN 9789797811921.



Pranala luar

  • Ixedu.com Diarsipkan 2009-02-23 di Wayback Machine. 3D Animations, Virtual Microscope, Activities, a Game and more! All about the cells.
  • The Inner Life of A Cell, a flash video showing what happens inside of a cell
  • The Virtual Cell
  • Cells Alive!
  • Journal of Cell Biology
  • A comparison of the generational and exponential growth of cell populations
  • High-resolution images of brain cells
  • The Biology Project > Cell Biology
  • The Image & Video Library Diarsipkan 2011-06-10 di Wayback Machine. of The American Society for Cell Biology, a collection of peer-reviewed still images, video clips and digital books that illustrate the structure, function and biology of the cell.
  • Centre of the Cell online
  • Biology sites Diarsipkan 2008-04-26 di Wayback Machine.
  • Molecular Biology of the Cell NCBI Books



Protozoa Yang Bergerak Dengan Pseudopodia Digolongkan Dalam Kelas

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Sel_(biologi)

Baca juga :  Bilangan Yang Hanya Memiliki Dua Faktor Disebut