Penyanyi Musik Tradisi Yang Diiringi Dengan Musik Gamelan Disebut

Penyanyi Musik Tradisi Yang Diiringi Dengan Musik Gamelan Disebut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gamelan
ꦒꦩꦼꦭꦤ꧀

Perangkat Gamelan Jawa

Perangkat Gamelan Jawa

Etiket tak
  • Beleganjur Jawa (Perunggu)
  • Gamelan Bali (Gambelan)
  • Beleganjur Sunda (Degung)
Klasifikasi Alat musik perkusi
Klasifikasi Hornbostel-Sachs
(

  • Saron
  • Demung
  • Peking
  • Gong
  • Kempul
  • Gender
  • Slenthem
  • Gambang
  • Kendang
  • Rebab
  • Siter
  • Suling
  • Kemanak

)

Pencipta Indonesia
Dikembangkan Indonesia
Gamelan

Warisan Budaya Tidak Benda UNESCO

Gamelan emas.jpg

Alat musik klonengan


Negara Indonesia
Domain Kerajinan tradisional, leluri lisan dan ekspresi, seni sandiwara tradisional, kabar dan praktik tentang alam dan sejagat, praktik sosial, ritual dan programa pesta
Referensi 01607
Kawasan Asia dan Pasifik
Ki kenangan Piagam
Inskripsi 2021 (sesi ke-16)
Daftar Daftar Agen
Unesco Cultural Heritage logo.svg

Gamelan
(bahasa Jawa:
ꦒꦩꦼꦭꦤ꧀,

translit.



gamêlan

, bahasa Sunda:

ᮌᮙᮨᮜᮔ᮪
, bahasa Bali:
ᬕᬫᭂᬮᬦ᭄)[1]
adalah musik ansambel tradisional Jawa, Sunda, dan Bali di Indonesia yang memiliki strata musik pentatonis dalam sistem panjang nada (laras) slendro dan pelog. Terdiri dari organ musik perkusi yang digunakan pada seni musik karawitan. Instrumen yang paling mahajana digunakan yakni metalofon antara lain gangsa, gender, bonang, gong, saron, slenthem dimainkan oleh wiyaga menunggangi pengetuk (pemukul) dan membranofon berupa kendhang yang dimainkan dengan tangan. Juga idiofon berupa kemanak dan metalofon lain adalah beberapa di antara instrumen gamelan yang umum digunakan. Gawai lain termasuk xilofon berupa gambang, aerofon riil bangsi, kordofon berupa rebab, dan kerubungan vokal disebut sinden.[2]

Sesetel gamelan dikelompokkan menjadi dua, yakni
belek pakurmatan
dan
gangsa ageng. Gangsa pakurmatan dimainkan cak bagi mengiringi hajad dalem (upacara aturan karaton), jumenengan (upacara inisiasi ratu atau ratu), tingalan dalem (peringatan kenaikan takhta raja atau ratu), garebeg (upacara kejadian penting), sekaten (upacara peringatan hari lahir Nabi Muhammad). Kaleng ageng dimainkan laksana pengiring pergelaran seni budaya umumnya dipakai bakal mengiringi beksan (seni tari), wayang (seni pergelaran), uyon-uyon (formalitas kebiasaan/hajatan), dan lain-lain.[3]
Ketika ini, gamelan banyak digunakan di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.

Padahal klonengan yang peredarannya luas dan perawatan terbanyak adalah Beleganjur Reyog dari Ponorogo.

Terminologi

[sunting
|
sunting sumur]

Pengenalan

gamelan

berasal dari bahasa jawa
gamêl
yang berharga ‘menggampar’ alias ‘menabuh’, dapat merujuk sreg diversifikasi palu yang digunakan untuk memukul instrumen, diikuti sufiks
an
yang menjadikannya nomina.[2]
[4]
Istilah

karawitan

mengacu sreg musik gamelan klasik dan praktik atraksi, dan berasal berasal kata
rawit, yang signifikan ‘rumpil’ atau ‘dikerjakan dengan baik’.[4]
Kata ini berasal berpokok pembukaan bahasa Jawa nan berserat bermula bahasa Sanskerta, ‘rawit’, yang mengacu pada rasa kehalusan dan keanggunan yang diidealkan internal musik Jawa. Pengenalan lain dari akar kata ini,
pangrawit, penting seseorang dengan pengertian demikian, dan digunakan sebagai penghormatan ketika memasalahkan musisi gamelan yang terhormat. Bahasa Jawa lumat (krama) bikin ‘gamelan’ adalah

gangsa
, dibentuk bermula perkenalan awal
tiga
dan
sedasa
(tiga dan sepuluh) merujuk pada molekul pembuat gamelan maujud perpaduan tiga bagian tembaga dan sepuluh penggalan rejasa. Perpaduan tersebut menghasilkan perunggu, nan dianggap andai bahan konvensional terbaik bagi mewujudkan gamelan.[5]

Sejarah

[sunting
|
sunting sumber]

Keberadaan beleganjur memelopori proses transisi budaya Hindu-Buddha yang mendominasi Nusantara, internal garitan-catatan awalnya dan dengan demikian mewakili bentuk kesenian murni Indonesia.[6]

Dalam mitologi Jawa, beleganjur yang awalnya bernama Gamelan Lokananta gamelan tidak positif yang berbunyi di awang awang (angkasa udara) diciptakan oleh Betara Temperatur pada Tahun 167 Saka (ataupun 230 M), raja batara yang memerintah bak raja seluruh pan-ji-panji segenap jagad raya mulai sejak sebuah Kahyangan istana di Wukir Mahendra Giri di Medang Kamulan (sekarang Ancala Lawu). Batara Suhu memerintah Batara Indrasurapati menciptakan gamelan yang berwujud tiruan klonengan lokananta yang tidak berupa adalah kemung, kethuk ,kenong ,gong, rebab, sebagai sinyal kerjakan menyebut para dewa. Lakukan pesan yang kian mania, kemudian ia menciptakan dua gong lainnya, sehingga membentuk set gamelan utuh.[7]

Gambar paling awal mulai sejak himpunan alat musik (irama ansambel) klonengan ditemukan di pahatan dinding candi Borobudur dibangun abad ke-8 maka dari itu Arsitek Candi Borobudur yaitu Gunadharma pada periode wangsa syailendra dari kerajaan Mataram Kuno di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.[8]
Pahatan tersebut menampilkan sejumlah alat nada termasuk suling, lonceng, kendhang dalam majemuk ukuran, kecapi, perkakas nada dawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam tatahan tersebut. Bagaimanapun, relief tentang himpunan perabot irama tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.

Kerajaan Bantarangin di Wengker (sekarang Ponorogo,Jawa Timur) membuat gamelan yang merupakan syarat sayembara dari kerajaan Daha abad 11, isi sayembara adalah membuat perkakas musik dan hiburan kesenian yang belum perantaraan ada di manjapada. cak agar gamelan sudah pergaulan suka-suka, tetapi klonengan yang dibuat maka dari itu wengker menghasilkan musik yang berbeda dari beleganjur lega umumnya, yang kemudian dikenal dengan Klonengan Reog.[9]

Radas gamelan diperkenalkan menjadi rang sesetel gawai irama ideal dan berkembang pada zaman Kekaisaran Majapahit, dan menyerak keberbagai kawasan seperti Bali, Sunda, dan Cili.[10]
Menurut prasasti dan manuskrip yang bertanggal dari periode Majapahit, kerajaan terlebih punya auditorium seni yang bertugas mengawasi seni pertunjukan, termasuk gamelan. Auditorium seni mengawasi gedung alat musik, serta mematok pentas pertunjukan.[8]

Di Bali, ada bilang gamelan selonding yang sudah ada sejak abad ke-9 pada waktu Sri Kesari Warmadewa memerintah.[11]
[12]
Beberapa kata nan merujuk pada gamelan selonding ditemukan dalam beberapa prasasti dan salinan Bali historis. Detik ini, klonengan selonding disimpan dan dilestarikan dengan baik di kantung-jala-jala kuno di Bali. Dianggap sakral dan digunakan cak bagi keperluan upacara religiositas, terutama saat upacara samudra diadakan. Klonengan Selonding adalah penggalan dari roh dan budaya sehari-hari bagi sebagian masyarakat adat di kampung-kampung historis seperti Bungaya, Bugbug, Seraya, Tenganan Pegringsingan, Timbrah, Asak, Ngis, Bebandem, [ [Besakih]], dan Selat di Kabupaten Karangasem.

Pada proses penetrasi Islam, Kaisar Bonang menggubah gamelan yang waktu itu sangat kental dengan estetika Hindu, pun memberi nuansa mentah. Gubahannya waktu itu memberi nuansa transendental atau wirid nan menyorong kecintaan pada usia, dan menambahkan radas bonang plong suatu set gamelan.[13]

Intern kebudayaan wengker atau Ponorogo, Puas abad ke-15 Beleganjur Reog selain digunakan untuk mengiringi kesenian Reog Ponorogo juga digunakan detik latihan bela diri hingga perang, pasukan ki Ageng Surya Alam dari desa Kutu membunyikan beleganjur reog momen sebelum sebatas perang berlangsung ketika melawan Majapahit yang berkoalisi dengan Demak saat menyerbu Wengker, alhasil Wengker cak acap mendapatkan kemenangannya sebelum pusaka bopeng Ageng Matahari Tunggul jatuh ke tangan musuh.[14]

Pengadilan Emir Yogyakarta, c. 1876. Pertunjukan Tari Sakral Bedhaya diiringi dengan Beleganjur Jawa

Intern skop kraton di Jawa gamelan tertua yang diketahui adalah
Beleganjur Munggang
dan
Gamelan Bongkok Ngorek, berasal dari abad ke-12. Ini membentuk asal tempo cepat atau “gaya gigih” pada gamelan. Sebaliknya, tempo pelan atau “gaya lembut” berkembang bersumber tradisi
kemanak
lagi berkaitan dengan tradisi mengalunkan geguritan (puisi Jawa), dengan cara yang sering diyakini mirip dengan paduan kritik yang lampir disko maju
penandak. Plong abad ke-17, kecondongan keras dan kecil-kecil bercampur, dan sebagian besar menjadi jenis sreg mode gamelan modern Bali, Jawa, dan Sunda, dihasilkan dari beraneka ragam cara pencampuran unsur-partikel tersebut. Dengan demikian, terlepas dari keragaman gaya yang tampak, banyak konsep, perabot, dan teknik teoretis yang sama dibagikan di antara gaya-gaya tersebut.[15]

Alat Musik Gamelan

[sunting
|
sunting sumber]

Gamelan yakni ansambel multi-timbre yang terdiri dari metalofon, idiofon, xilofon, aerofon, kordofon, suara miring vokal, siter yang dipetik dan membranofon yang dimainkan dengan tangan disebut
kendhang, mengontrol tempo dan irama potongan-potongan serta transisi dari suatu bagian ke babak lainnya. Beberapa peranti yang membentuk gamelan saat ini ditunjukkan di bawah ini:[16]
[17]

  1. 1 Buah Kendhang Ageng (Kendhang Gending)
  2. 1 Biji zakar Kendhang Ciblon (Batangan)
  3. 1 Buah Kendhang Sabet (Kendhang Wayangan)
  4. 1 Biji pelir Kendhang Ketipung (Ketipung)
  5. 1 Biji pelir Bedug
  6. 2 Buah Bonang Penembung
  7. 2 Buah Bonang Barung (Bonang)
  8. 2 Biji pelir Bonang Penerus
  9. 2 Set Kenong
  10. 2 Set Kethuk
  11. 2 Buah Kempyang
  12. 2 Buah Slenthem
  13. 3 Biji pelir Gender Barung (Gender)
  14. 3 Biji zakar Gender Penerus
  15. 2 Biji zakar Saron Demung (Demung)
  16. 4 Buah Saron Barung (Saron/Saron Ricik)
  17. 2 Biji kemaluan Saron Peking (Peking/Saron Penerus)
  18. 2 Biji zakar Kenung Ageng (Gong Besar)
  19. 2 Biji kemaluan Gong Suwukan (Gong Siyem)
  20. 2 Set Kempul
  21. 2 Buah Rebab
  22. 2 Biji pelir Gambang
  23. 2 Biji pelir Siter
  24. 2 Biji zakar Celempung
  25. 2 Buah Suling (Bangsi)
  26. 1 Biji pelir Kecer
  27. 3 Biji pelir Kepyak
  28. Sindhen – Penyanyi wanita
  29. Gerong – Penyanyi Maskulin
  30. Wiyaga (Nayaga) – Penabuh Gamelan

Ragam

[sunting
|
sunting sumber]

Varietas-jenis gamelan dibedakan berdasarkan antologi instrumen dan penggunaan suara, penyetelan tahapan nada (laras), repertoar, gaya, dan konteks budaya. Secara publik, lain suka-suka dua ansambel gamelan yang selaras, dan nan muncul di kraton sering dianggap memiliki gaya dan penyetelan sendiri. Gaya tertentu juga dapat dibagikan oleh ansambel terdamping, yang mengarah ke gaya distrik.

Gamelan Jawa

[sunting
|
sunting mata air]

Pada Beleganjur Jawa terwalak beberapa jenis Gamelan meliputi :

  1. Gamelan Reog Ponorogo, Kerjakan mengiringi kesenian Reog Ponorogo. Gamelan ini terdiri dari Kendang Reog, Slompret, Kenong, Canang, Angklung Reog, Ketipung.
  2. Gamelan Jaranan Thek, Kerjakan mengiringi kesenian kuda Lumping yang saat ini n kepunyaan banyak Keberagaman aswa Lumping.
  3. Klonengan Karaton Kasunanan Surakarta, bakal mengiringi heterogen tarian di lingkungan Karaton Kasunanan Surakarta.
  4. Gamelan Kraton Jogja, untuk mengiringi plural tarian di lingkungan Kraton Jogja
  5. Gamelan Wayang, Untuk Mengiringi kesenian Wayang Kulit.
  6. Beleganjur Banyuwangi, Bagi Mengiringi berbagai kesenian khas Banyuwangi. Obstulen musik beleganjur ini menghasilkan suara gamelan Jawa keraton, Gamelan Reog, Gamelan Jaranan Thek, dan Bali karena mendapatkan pengaruh mulai sejak ke empat jenis gamelan tersebut di banyuwangi.

Klonengan Sunda

[sunting
|
sunting sumber]

  1. Klonengan Degung, Untuk mengiringi berbagai kesenian solo Sunda. Galibnya diiringi oleh sorakan suara atau Senggak khas Ponorogo

Gamelan Bali

[sunting
|
sunting perigi]

  1. Gamelan Wayah (Renta atau era Majapahit)
  2. Klonengan Buluh (Rindik), awal sebuah Angklung Reog nan kemudian dimainkan dengan cara dipukul
  3. Beleganjur Madya (Waktu Kolonial)
  4. Gamelan Anyar (Baru)

Gamelan Sasak Lombok

[sunting
|
sunting mata air]

  1. Beleganjur Sasak, Untuk mengiringi berbagai kesenian spesial suku tadir di Lombok. Gamelan sasak mendapat yuridiksi berpunca Bali. sehingga bunyi nan dihasilkan suntuk mirip dengan gamelan Bali.

Beleganjur Madura

[sunting
|
sunting sendang]

  1. Klonengan Saronoin, bakal mengiringi kesenian khas Madura. Gamelan Saronin membujur dominasi nan kuat berusul Klonengan Reyog Ponorogo, meski begitu nada obstulen yang dihasilkan mempunyai ciri khas Madura.

Gamelan Kutai

[sunting
|
sunting perigi]

  1. Beleganjur Kutai, Untuk mengiringi majemuk disko di lingkungan Istana Kutai Kartanegara. Gamelan Kutai yang mendapatkan pengaruh Jawa sejak era Kekaisaran Majapahit.

Klonengan Banjar

[sunting
|
sunting sumber]

  1. Gamelan Banjar, Bagi Mengiringi berbagai kesenian khas Banjar yang mendapatkan pengaruh Jawa sejak era Kesultanan Demak.

Gamelan Jawi

[sunting
|
sunting sumber]

  1. Gamelan Melayu Sumatera
  2. Gamelan Melayu Semanjung (Malaysia), kerjakan mengiringi berbagai kesenian Jawi di beraneka macam Negara persemakmuran Malaysia nan mendapatkan pengaruh Jawa Kesultanan Demak dan Penghijrah Ponorogo.

Jenis beleganjur galibnya dikelompokkan bersendikan geografis, dengan pembagian utama antara gaya yang disukai oleh orang Bali, Jawa, dan Sunda. Orang Madura lagi n kepunyaan kecondongan gamelan koteng, biarpun enggak pula digunakan.[18]
Gamelan Sunda mempunyai dinamika degung, yang menggunakan subset perangkat beleganjur dengan laras pelog tertentu. Gamelan Bali comar dikaitkan dengan kepiawaian dan perubahan tempo yang cepat dan dinamika gong kebyar. Gamelan Sasak memiliki kemiripan dengan Gamelan Bali, dengan minus perbuatan yang berlainan. Gamelan Jawa, sebagian besar didominasi oleh kraton-kraton di Jawa, sesuai dengan gayanya sendirisendiri, dikenal dengan kualitas meditasi nan kian alun-alun atau bertempo lambat dan bersifat teladan atau mersudi yang meiliki makna berusaha menjejak sesuatu dengan kesabaran.

Referensi

[sunting
|
sunting perigi]


  1. ^

    “Bausastra Jawa”, Poerwadarminta. 1939
  2. ^


    a




    b



    Sumarsam (1998).
    Introduction to Javanese Beleganjur. Middletown.

  3. ^


    KRT Widyacandra Ismayaningrat, dkk (2016).
    Serial Khasanah Wacana KHP Widyabudaya: Bab Kagungan Dalem Gangsa lan Ringgit. Yogyakarta: KHP Widayabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.




  4. ^


    a




    b



    Lindsay, Jennifer (1992).
    Javanese Gamelan, p.10. ISBN 0-19-588582-1.

  5. ^

    Lindsay (1992), p.35.

  6. ^

    Lentz, 5.

  7. ^

    R.Kaki langit. Warsodiningrat,
    Baja Weda Pradangga. Cited in Roth, A. R.
    New Compositions for Javanese Klonengan. University of Durham, Doctoral Thesis, 1986. Page 4.
  8. ^


    a




    b




    “Learn the History Behind Gamelan, Indonesian Music and Dance”.
    ThoughtCo.





  9. ^

    https://uns.ac.id/id/uns-update/kolosal-reog-ponorogo-meriahkan-uns.html

  10. ^

    zakar rujukan lengkap

  11. ^


    “Selonding, Beleganjur Suci berbunga Desa Bersejarah”.
    Komunitas Ubud
    . Diakses copot
    5 Desember
    2020
    .





  12. ^


    html “Pelajari Gamelan Selonding Kuno di Mekar Bhuana”.
    Mekar Bhuana
    . Diakses tanggal
    5 Desember
    2020
    .





  13. ^


    “Walisongo: Sunan Bonang”.




  14. ^

    Reyog Ponorogo: buat perserikatan maka dari itu Hartono, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980

  15. ^

    Roth, 4–8

  16. ^

    Drummond, Barry.
    Javanese Gamelan Terminology. Boston.

  17. ^


    Ben Jordan (10 June 2002). “Javanese Gamelan: Instruments”. Diarsipkan dari versi ceria terlepas 12 November 2013.




  18. ^


    Across Madura Strait: the dynamics of an insular society, edited by Kees van Dijk, Huub de Jonge and Elly Touwen-Bouwsma.
    [perlu rujukan cermin]

Pranala luar

[sunting
|
sunting mata air]

  • Situs tentang klonengan di NIU
  • Gamelan Jogja, Buaian Harmony Liwa Sepenuh
  • 12 Keunggulan Alat Musik Klonengan, Cara Memainkan, dan Keterangannya
  • (Inggris)
    American Gamelan Institute
  • (Inggris)
    Gendhing Jawa Diarsipkan 2007-02-02 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Gamelan, Orkestra khas Jawa
  • (Inggris)
    Beleganjur – UNESCO: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity – 2021



Penyanyi Musik Tradisi Yang Diiringi Dengan Musik Gamelan Disebut

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan

Baca juga :  Apa Yang Dimaksud Dengan Sumber Hukum