Kain Batik Yang Proses Pembuatannya Menggunakan Canting Tulis Disebut

Kain Batik Yang Proses Pembuatannya Menggunakan Canting Tulis Disebut

Berpunca Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia objektif

Batik
Batik Indonesia.jpg

Menulis mulai sejak Surakarta di Jawa Tengah; sebelum 1997

Jenis Seni Kain
Target Kain, lawe, kapas
Medan asal Indonesia


Batik
adalah kain Indonesia bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan mandu tertentu yang memiliki kekhasan.[1]
misal keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO sudah lalu ditetapkan sebagai Pusaka Kemanusiaan lakukan Budaya Oral dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.[2]
Sejak saat itu, 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Teknik seni kain yang mirip menggambar dapat ditemukan pada berbagai ragam kebudayaan di bumi sebagai halnya di Nigeria, Tiongkok, India, Malaysia, Sri Lanka dan daerah-distrik tidak di Indonesia. Menggambar pesisir Indonesia dari pulau Jawa mempunyai sejarah akulturasi yang panjang, dengan corak beragam yang dipengaruhi oleh berbagai budaya, serta paling berkembang dalam kejadian teladan, teknik, dan kualitas pengerjaan dibandingkan batik dari daerah lain.

Menulis dianggap misal ikon budaya terdahulu di Indonesia. Mahajana Indonesia mengenakan batik bagaikan gaun kasual dan lumrah yang dapat digunakan intern bermacam-macam acara.

Etimologi

Secara etimologi, istilah “batik” berasal dari bahasa Jawa:
ꦲꦩ꧀ꦧꦛꦶꦏ꧀,

translit.



ambathik


yang dihasilkan dari lakuran kata
ꦲꦩ꧀ꦧ
(amba) yang berarti “sintal” atau “luas” (merujuk kepada tiras), dan
ꦤꦶꦛꦶꦏ꧀
(nithik) yang berfaedah “membentuk titik” dan kemudian berkembang menjadi istilah bahasa Jawa:
ꦧꦛꦶꦏ꧀,

translit.



bathik

, nan berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu sreg kain yang luas atau sintal. Kata kerumahtanggaan bahasa Jawa:
ꦧꦛꦶꦏꦤ꧀,

translit.



bathikan


kembali bisa bermakna sebagai “menggambar” maupun “menulis”.[3]
Istilah
bathik
kemudian diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi “menggambar” dengan menggantikan obstulen abjad “-th” laksana “-t” dikarenakan orang non-Jawa tidak boleh melafalkannya dengan mudah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “batik” didefinisikan sebagai kain bertato yang pembuatannya secara spesial dengan menuliskan atau menerakan parafin (atau dalam bahasa Jawa:
ꦩꦭꦩ꧀,

translit.



malam

) lega kain itu, yang kemudian pengolahannya menerobos proses tertentu.[4]
Jadi, bisa disimpulkan bahwa “batik” boleh merujuk kepada sebuah proses atau hasil jadi (berwatak bendawi) dari proses tersebut.

Memori teknik batik

Detail tatahan kain yang dikenakan Prajnaparamita, reca yang mulai sejak dari Jawa Timur abad ke-13. Cukilan pola lingkaran dipenuhi kembang dan sulur tanaman yang rumit ini mirip dengan teoretis batik tradisional Jawa.

Seni pewarnaan kain dengan teknik pengempang pewarnaan menunggangi lilin lebah atau parafin adalah pelecok satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini mutakadim dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus zombi yang pun dilapisi malam cak bagi membentuk pola. Di Asia, teknik serupa menulis juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti Cakrawala’ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik yang mirip dengan batik dikenal maka itu Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[5]
Di Indonesia, batik dipercaya sudah suka-suka semenjak zaman Majapahit, dan menjadi lewat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Menulis yang dihasilkan merupakan semuanya batik tulis sampai sediakala abad XX dan menulis tanda baru dikenal sehabis Perang Mayapada I maupun seputar tahun 1920-an.[6]

Walaupun kata “batik” berasal bersumber bahasa Jawa, kerelaan batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik menggambar ini peluang diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 maupun ke-7.[5]
Di arah enggak, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa adat istiadat batik yakni ceria berpangkal daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme sahaja diketahui memiliki leluri kuno membuat menggambar.[7]

G.P. Rouffaer pula melaporkan bahwa pola
gringsing
sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Engkau menyimpulkan bahwa eksemplar sama dengan ini hanya bisa dibentuk dengan memperalat alat
canting, sehingga anda berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa plong perian sekitar itu.[7]
Detail ukiran kain yang menyerupai konseptual batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detail pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang selit belit nan mirip dengan pola menggambar tradisional Jawa nan dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang doang bisa dibuat dengan
canting
telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau sampai-sampai lebih awal.[8]
Pada perempat terakhir abad ke-13, perca menggambar dari Jawa telah diekspor ke kepulauan Karimata, Siam, bahkan hingga ke Mosul.[9]

Legenda dalam literatur Jawi abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sunan Mahmud untuk berlayar ke India seyogiannya mendapatkan 140 utas kain
serasah
dengan kamil 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena lain berkecukupan memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri perca-tiras itu. Namun sayangnya kapalnya karam n domestik perjalanan pulang dan saja berkecukupan membawa empat lembar sehingga membuat si Sultan kecut hati.[10]
Oleh bilang penafsir,who?
air terjun
itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik menggambar ini pertama mana tahu diceritakan dalam buku
History of Java
(London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia kombinasi menjadi Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memasrahkan selembar menulis yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan puas tadinya abad ke-19 itulah menggambar berangkat menyentuh masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di
Exposition Universelle
di Paris plong hari 1900, batik Indonesia memukau mahajana dan seniman.[5]

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik varietas yunior muncul, dikenal bagaikan batik cap dan batik cetak, darurat menggambar tradisional nan diproduksi dengan teknik tulisan tangan memperalat canting dan malam disebut batik tulis. Sreg saat nan sama imigran dari Indonesia ke Wilayah Persekutuan Malaysia sekali lagi membawa batik bersama mereka.

Sekarang batik sudah berkembang di sejumlah tempat di asing Jawa, bahkan hingga ke manca negara. Di Indonesia batik telah kembali dikembangkan di Aceh dengan batik Aceh, batik Cual di Riau, Menggambar Papua, menggambar Sasirangan Kalimantan Timur, dan batik Minahasa.

Budaya menggambar

Batik adalah kerajinan nan memiliki biji seni tinggi dan telah menjadi bagian mulai sejak budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lalu menjadikan keterampilan mereka dalam membatik misal mata pencaharian, sehingga pada hari dahulu pekerjaan membatik adalah pegangan istimewa perempuan sebatas ditemukannya “Menggambar Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke kerumahtanggaan bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu menulis pantai yang memiliki garis maskulin seperti nan bisa dilihat pada corak “Awan Kelam”, di mana di bilang daerah rantau pekerjaan membatik adalah lazim bagi suku bangsa lelaki.

Adat istiadat membatik pada mulanya ialah leluri yang turun temurun, sehingga kadang rekata satu motif dapat dikenali berasal dari menulis keluarga tertentu. Beberapa motif menulis dapat menunjukkan harga diri seseorang. Sampai-sampai sampai ketika ini, bilang motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga kastil Yogyakarta dan Surakarta.

Menggambar Cirebon bermotif mahluk laut

Menggambar ialah warisan nenek moyang Indonesia yang sebatas saat ini masih cak semau. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada manjapada oleh Kepala negara Soeharto, yang lega waktu itu mengaryakan batik pada Konferensi PBB.

Batik dipakai kerjakan menyampu seluruh tubuh makanya penari Tari Bedhoyo Ketawang di keraton Jawa.

Rona menggambar

Ragam rona dan rona batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh budaya lokal dan asing. Awalnya, batik memiliki ragam rona dan rona nan terbatas, dan beberapa corak belaka bisa dipakai maka dari itu kalangan tertentu, misalnya kalangan keraton. Sekadar menulis pantai menyerap beragam otoritas luar, seperti para pengembara asing dan para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh etnis Tionghoa, yang juga memopulerkan warna
phoenix. Bangsa kolonialis Eropa lagi cekut minat kepada batik dan balasannya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip), benda-benda yang dibawa kolonialis (gedung alias gerobak), dan warna-rona kebahagiaan mereka seperti warna biru. Menulis tradisonal tegar mempertahankan coraknya dan masih dipakai dalam ritual-seremoni adat karena rata-rata masing-masing corak punya arti alias lambang sendirisendiri.

Kaidah pembuatan

Semula batik dibuat di atas sasaran dengan warna kudrati yang terbuat berpangkal kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik pun dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, sutra dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan larutan parafin dengan menggunakan perangkat yang dinamakan canting cak bagi motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan parafin kuap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan dandan yang diinginkan, kebanyakan dimulai bersumber warna-warna cukup umur. Pencelupan kemudian dilakukan lakukan motif tak dengan warna lebih tua atau terlarang. Setelah beberapa boleh jadi proses pewarnaan, kain yang sudah dibatik dicelupkan ke dalam incaran ilmu pisah bagi meluluhkan lilin.

Jenis batik

  • Batik tulis adalah reja yang dihias dengan tekstur dan rona batik menggunakan tangan. Pembuatan batik variasi ini memakan hari kurang lebih 2-3 wulan.
  • Menggambar cap adalah kain nan dihias dengan tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( lazimnya terbuat berpokok tembaga). Proses pembuatan menggambar jenis ini membutuhkan musim kurang lebih 2-3 musim.
  • Batik lukis yakni proses pembuatan menggambar dengan cara langsung melukis lega tiras nirmala.

Batik Jawa

Sebuah peninggalan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai makhluk Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berlainan-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu memiliki makna, maksudnya bukan hanya sebuah tulang beragangan akan tetapi mengandung makna nan mereka boleh semenjak leluhur mereka, merupakan penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik Jawa banyak berkembang di kawasan Eksklusif atau nan sah disebut dengan batik Solo, Yogyakarta atau baku disebut Menggambar Jogja dan Kota Pekalongan ataupun yang biasa disebut Batik Pekalongan.

Beralaskan daerah asal

  • Batik Aceh
  • Menulis Bali
  • Batik Banyumas
  • Menggambar Banten
  • Menggambar Belanda
  • Batik Betawi
  • Menulis Cianjur
  • Batik Cirebon
  • Batik Jambi
  • Batik Jepara / Batik Kartini
  • Batik Jepang
  • Menggambar Jombang
  • Batik Kalimantan
  • Batik Kebumen
  • Batik Kediri
  • Batik Zakiah
  • Batik Madura
  • Menulis Malang
  • Menulis Maluku
  • Menggambar Minangkabau
  • Batik Minahasa
  • Batik Nusa Tenggara
  • Menulis Papua
  • Batik Pekalongan
  • Batik Sumatra
  • Batik Eksklusif
  • Batik Tasik
  • Batik Tegal (Tegalan)
  • Batik Tulungagung
  • Menulis Yogyakarta

Berdasarkan corak

  • Batik Besurek
  • Menulis Cuwiri
  • Batik Gedog
  • Batik Jlamprang
  • Batik Kawung
  • Menulis Kraton
  • Batik Peladang
  • Menulis Pringgondani
  • Batik Sekar Jagad
  • Batik Semen Rama
  • Menggambar Sida Asih
  • Batik Sida Luhur
  • Batik Sida Mukti
  • Batik Sudagaran
  • Batik Sumbat

Galeri

Lihat lagi

Bacaan


  1. ^


    “Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring”. Taktik Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2016-03-29. Diakses tanggal
    04 Oktober
    2016
    .





  2. ^

    UNESCO: Indonesian Menggambar

  3. ^


    Poerwadharminta, WJS.
    Bausastra.





  4. ^


    “Batik”.
    kbbi.kemdikbud.go.id. Jasmani Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Peradaban.




  5. ^


    a




    b




    c



    Nadia Nava,
    Il menggambar
    – Ulissedizioni – 1991 ISBN 88-414-1016-7

  6. ^

    Album Batik Indonesia
  7. ^


    a




    b



    Iwan Tirta, Gareth L. Steen, Deborah M. Urso, Mario Alisjahbana, ‘Batik: a play of lights and shades, Piutang 1’, By Mode Favorit Press, 1996, ISBN 979-515-313-7, 9789795153139

  8. ^


    “Prajnaparamita and other Buddhist deities”. Volkenkunde Rijksmuseum. Diarsipkan dari versi nirmala tanggal 2 May 2014. Diakses tanggal
    1 May
    2014
    .





  9. ^


    Jung-pang, Lo (2013).
    China as a Sea Power, 1127-1368. Flipside Digital Content Company Inc. ISBN 9789971697136.





  10. ^

    Dewan sastera, Piutang 31, Issues 1-6 By Dewan Bahasa dan Pustaka

Daftar pustaka

  • Doellah, H.Santosa. (2003).
    Batik: The Impact of Time and Environment, Solo: Danar Hadi. ISBN 979-97173-1-0
  • Elliott, Inger McCabe. (1984)
    Batik: fabled cloth of Java
    photographs, Brian Brake ; contributions, Paramita Abdurachman, Susan Blum, Iwan Tirta ; design, Kiyoshi Kanai. New York: Clarkson N. Potter Inc., ISBN 0-517-55155-1
  • Fraser-Lu, Sylvia.(1986)
    Indonesian menulis: processes, patterns, and places
    Singapore: Oxford University Press. ISBN 0-19-582661-2
  • Gillow, John; Dawson, Barry. (1995)
    Traditional Indonesian Textiles. Thames and Hudson. ISBN 0-500-27820-2
  • QuaChee & eM.K. (2005)
    Menulis Inspirations: Featuring Top Batik Designers. ISBN 981-05-4447-2
  • Raffles, Sir Thomas Stamford. (1817)
    History of Java, Black, Parbury & Allen, London.
  • Sumarsono, Hartono; Ishwara, Helen; Yahya, L.R. Supriyapto; Moeis, Xenia (2013).
    Lawai Aji: Menyimpul Keelokan Batik Pesisir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-979-9106-01-8.
  • Tirta, Iwan; Steen, Gareth L.; Urso, Deborah M.; Alisjahbana, Mario. (1996) “Batik: a play of lights and shades, Volume 1”, Indonesia: Gaya Calon. ISBN 979-515-313-7, ISBN 978-979-515-313-9
  • Nadia Nava,
    Il batik
    – Ulissedizioni – 1991 ISBN 88-414-1016-7

Bacaan lanjutan

  • Pogadaev, Victor (2002). “The Magic of Menulis” in “Vostochnaya Kollektsiya” (Oriental Collection), Spring 2002, p. 71-74.

Pranala luar

  • Menggambar Fraktal Kontemporer
  • Batik Banten: Seni budaya lokal yang mendunia
  • (Inggris)
    Indonesian Menulis – UNESCO: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity – 2009



Kain Batik Yang Proses Pembuatannya Menggunakan Canting Tulis Disebut

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Batik

Baca juga :  Bentuk Singkat Dari Naskah Asli Suatu Bacaan Disebut Dengan