4 Aspek Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

4 Aspek Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Ki kenangan Lahirnya Pancasila – PelajaranIPS.Co.Id– Pancasila sebagai sistem makulat dapat ditinjau bersumber 3 (tiga) Aspek, yaitu: Aspek Ontologis, Aspek Epistemologis dan Aspek Aksiologis.

Aspek Dalam Pancasila Bak Sistem Metafisika

  • Aspek Ontologis

Pengkhususan hakikat terserah (sari) dan keberadaan (kerelaan) barang apa sesuatu : tunggul seberinda, fisik, psikis, spiritual, metafisik, termasuk kehidupan sesudah senyap, dan Tuhan.

Aspek Ontologis

Ontologi Pancasila mengandung azas dan ponten antara tidak :

Tuhan yang Maha Esa adalah sumber kedatangan kesemestaan. Ontologi ketuhanan bersifat religius, supranatural, ideal dan suprarasional;

Ada – kesemestaan, tunggul sepenuh (makrokosmos) sebagai ada tak terbatas, dengan wujud dan hukum alam, sumur kunci umbul-umbul nan ialah prwahana dan sumber kehidupan semua anak adam: dunia, matahari, zat asam, air, tanah subur, pertambangan, dan sebagainya;

Keberadaan subyek / pribadi manusia: individual, tungkai, nasional, umat manusia (universal). Manusia adalah subyek unik dan mandiri baik personal alias nasional, merdeka dan berdaulat.

Subyek pribadi mengemban identitas unik: menghayati kepunyaan dan pikulan n domestik kesetiakawanan dan kesemestaan (sosial – horisontal dengan duaja dan sesama manusia), sekaligus secara sosial – vertikal universal dengan Halikuljabbar.

Pribadi turunan berkepribadian utuh dan distingtif dengan potensi jasad – rohani, karya dan dedikasi sebagai pengemban maklumat keimanan;

Eksistensi tata budaya, sebagai perwujudan prestise dan budi anak adam yang unggul. Baik kebudayaan nasional maupun mondial adalah perwujudan martabat dan budi manusia: sistem nilai, sistem kelembagaan atma sebagai halnya keluarga, masyarakat, organisasi, negara.

Keikhlasan kultural dan kebudayaan perwujudan teleologis manusia: umur dengan tembung dan cita – cita sehingga kreatif, berada, etis, berkebajikan;

Eksistensi bangsa – negara yang berwujud sistem nasional, sistem kenegaraan yang merdeka dan berdaulat, yang memajukan martabat, budi dan kewibawaan nasional.

Sistem kenegaraan yang merdeka dan berdaulat ialah puncak performa pertempuran bangsa, pusat kesetiaan, dan kebanggaan kewarganegaraan.

  • Aspek Epistemologis

Mata air, proses, syarat-syarat batas, validitas dan hakikat ilmu. Epistemologi Pancasila secara mendasar meliputi nilai – biji dan azas-azas:

Baca juga :  Apa Sajakah Alat Yang Dapat Digunakan Untuk Mengiringi Senam Irama

Aspek Epistemologis

Maha sumur yakni Tuhan, yang menciptakan kepribadian khalayak dengan martabat dan potensi spesial nan tingkatan, meresapi kesemestaan, nilai agama dan ketuhanan.

Fiil manusia sebagai subyek diberkati dengan status luhur: pancaindra, akal geladak, rasa, karsa, cipta, karya dan budi intuisi.

Kemampuan status manusia selayaknya yakni anugerah dan amanat rabani / keagamaan.

Perigi pengetahuan dibedakan dibedakan secara kualitatif, antara:

Sumber primer, nan tertinggi dan terluas, orisinal: lingkungan liwa, semesta, sosial – budaya, sistem kenegaraan dan dengan dinamikanya;

Sumber sekunder: bidang – bidang ilmu yang mutakadim ada / berkembang, kepustakaan, pengarsipan;

Sumber tersier: intelektual, ilmuwan, ahli, narasumber, dan master.

Wujud dan tingkatan pengetahuan dibedakan secara hierarkis: atas Pengetahuan indrawi, Embaran Ilmiah, Pengetahuan filosofis dan Pengetahuan Religius.

Permakluman manusia nisbi mencengam keempat wujud janjang itu. Ilmu adalah gana dan prestasi khas atau umpama karya dan warisan budaya umat manusia yaitu kualitas martabat kepribadian manusia.

Perwujudannya ialah pemanfaatan mantra guna kesejahteraan sosok, harga diri luhur dan kebajikan para cendekiawan (ki berjebah, sabar, tekun, rendah hati, bijaksana).

Ilmu membentuk kepribadian mandiri dan matang serta meningkatkan harkat gengsi pribadi secara lahiriah, sosial (sikap privat perhubungan), psikis (kepala dingin, adv minim hati, bijaksana).

Guna-guna menjadi kualitas kepribadian, termasuk kegairahan, keuletan untuk berkreasi dan berkreasi.

Martabat kepribadian anak adam dengan potensi uniknya memampukan khalayak bakal menghayati alam metafisik jauh di mengot alam dan nyawa.

Memiliki wawasan kesejarahan (musim lampau, kini dan masa depan), wawasan urat kayu (negara, alam sepenuh), bahkan secara suprarasional menjiwai Tuhan yang supranatural dengan kehidupan abadi sesudah sunyi.

Publikasi menyeluruh ini adalah perwujudan kesadaran filosofis-religius, yang menentukan derajat kepribadian manusia yang sani.

Baca juga :  Negara Bagian Paling Tua Dan Paling Banyak Penduduknya Di Australia

Berilmu / berpengetahuan berarti menerima ketidaktahuan dan keterbatasan manusia kerumahtanggaan menjangkau dunia suprarasional dan supranatural.

Sempat secara “melampaui pasta batas” ilmiah dan filosofis itu justru menghadirkan keyakinan religius yang dianut seutuh karakter: mengakui keterbatasan mualamat ilmiah – rasional adalah kesadaran rohaniah tertinggi yang membahagiakan.

  • Aspek Aksiologis

Menyelidiki pengertian, keberagaman, tahapan, mata air dan hakikat nilai secara kesemestaan. Aksiologi Pancasila pada hakikatnya sejiwa dengan ontologi dan epistemologinya.

Sentral – kunci aksiologi itu dapat disarikan sebagai berikut:

Aspek Aksiologis

Tuhan nan mahaesa sebagai mahasumber nilai, pencipta pan-ji-panji semesta dan segala apa isi beserta antarhubungannya, tercantum hukum tunggul.

Biji dan hukum moral mengikat sosok secara psikologis – spiritual: akal dan budi nurani, obyektif mutlak menurut ruang dan waktu secara global.

Hukum duaja dan hukum budi pekerti ialah pengendalian sepenuh dan kemanusiaan yang menjamin multieksistensi demi keharmonisan dan kelestarian hidup.

Subyek manusia bisa mengkhususkan hakikat mahasumber dan sumber skor n domestik perwujudan Halikuljabbar yang mahaesa, penggarap alam semesta, asal dan pamrih vitalitas orang (sangkan paraning dumadi, secara individual ataupun sosial).

Nilai – skor dalam kesadaran anak adam dan kerumahtanggaan realitas antarbangsa yang menutupi: Allah yang mahaesa dengan perwujudan nilai agama yang diwahyukan-Nya.

Alam segenap dengan berbagai unsur yang menjamin umur setiap makhluk dalam antarhubungan yang harmonis, subyek sosok yang bernilai bakal dirinya seorang (kesegaran, kesukaan, dan sebgainya) beserta aneka kewajibannya.

Selalu kepada keluarga dan sesama adalah kebahagiaan sosial dan kognitif yang tidak ternilai.

Demikian pula dengan ilmu, pengetahuan, sosio-budaya umat manusia yang membentuk sistem nilai dalam kebudayaan manusia menurut wadah dan zamannya

Khalayak dengan potensi martabatnya menduduki manfaat ganda internal kombinasi dengan berbagai ponten: khalayak umpama pengamal ponten atau “konsumen” nilai yang bertanggung jawab atas norma – norma penggunaannya dalam kehidupan bersama sesamanya.

Baca juga :  Arus Listrik Yang Mengalir Pada Hambatan R2 Adalah

Manusia bagaikan pencipta biji dengan karya dan manifestasi individual maupun sosial (ia adalah subyek budaya).

“Man created everything from something to be something else, God created everything from nothing to be everything.” Dalam keterbatasannya, makhluk adalah prokreator bersama Sang pencipta.

Harga diri khuluk individu secara potensial-integritas bertumbuh kembang berpunca hakikat manusia sebagai makhluk khalayak – sosial – moral;

Berhikmat kebijaksanaan, tulus dan rendah lever, selalu keadilan dan kebenaran, karya dan darma bakti, amal kebajikan bakal sesama.

Manusia dengan potensi martabatnya nan luhur dianugerahi akal budi dan insting sehingga memiliki kemampuan untuk beriman kepada Tuhan yang mahaesa menurut agama dan pembantu masing-masing.

Tuhan dan nilai agama secara filosofis berperangai metafisik, supernatural dan supranatural.

Maka potensi martabat manusia yang luhur itu bersifat apriori: diciptakan Tuhan dengan identitas martabat nan unik: secara sadar menyayangi keadilan dan legalitas, kebaikan dan kebajikan.

Cinta kasih adalah barang manusia – identitas utama akal khuluk dan nuraninya – melintasi sikap dan karyanya.

Manusia sebagai subyek nilai memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap pendayagunaan angka, mewariskan dan melestarikan ponten dalam semangat.

Hakikat kebenaran yakni cinta kasih, dan hakikat ketidakbenaran adalah kebencian (intern aneka wujudnya: dendam, permusuhan, perang, dan sebagainya).

Keberadaan fungsional manusia adalah subyek dan kesadarannya. Kesadaran berupa internal dunia indra, ilmu, filsafat (peradaban / peradaban, etika dan nilai – nilai ideologis) maupun skor – nilai supranatural.

Demikian penjelasan artikel diatas tentang3 Aspek Intern Pancasila Bagaikan Sistem Filsafat sebaiknya dapat signifikan untuk pembaca setiaPelajaranIPS.Co.Id

4 Aspek Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Source: https://pelajaranips.co.id/aspek-dalam-pancasila-sebagai-sistem-filsafat/